finnews.id – Bencana banjir bandang yang menerjang wilayah Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat terus menelan korban jiwa. Menyikapi kondisi darurat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama tim gabungan bergerak cepat mempercepat proses pencarian, penyelamatan, dan distribusi bantuan bagi para penyintas.
Kepala BNPB Suharyanto dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (30/11) menegaskan bahwa upaya prioritas mencakup evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar, pembukaan akses wilayah terisolasi, serta percepatan distribusi logistik melalui jalur darat dan udara.
Sumatera Utara: 166 Meninggal, 143 Hilang
Memasuki hari ketiga status tanggap darurat, jumlah korban di Sumatera Utara meningkat menjadi 166 orang meninggal dunia, bertambah 60 korban hanya dalam satu hari berkat operasi pencarian intensif oleh tim SAR gabungan yang dipimpin Basarnas. Sementara 143 orang lainnya dinyatakan hilang.
Aceh: 47 Korban Meninggal, Puluhan Hilang
Pada hari kedua pascapenetapan status darurat di Aceh, tercatat:
- 47 orang meninggal dunia
- 51 orang hilang
- 8 orang luka-luka
Jumlah pengungsi melonjak hingga 48.887 kepala keluarga, dengan konsentrasi terbesar di Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil. Suharyanto menekankan bahwa data ini kemungkinan terus bertambah seiring operasi SAR yang masih berlangsung.
Sumatera Barat: 90 Meninggal, 85 Hilang
Sementara di Sumatera Barat, dua hari setelah status darurat ditetapkan, tercatat:
- 90 korban jiwa
- 85 orang hilang
- 10 orang luka-luka
Jumlah pengungsi mencapai 11.820 kepala keluarga atau 77.918 jiwa, terutama di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan. Wilayah Kabupaten Agam menjadi daerah dengan korban terbanyak.
Untuk mempercepat penanganan di lapangan, BNPB dan tim gabungan telah mengerahkan alutsista ke wilayah terdampak guna memperlancar proses evakuasi dan distribusi bantuan. Selain itu, jaringan komunikasi darurat berbasis satelit Starlink telah diaktifkan di sejumlah titik, terutama di daerah yang terputus akses komunikasinya.