Home Internasional Eropa Mengering: Data Satelit 20 Tahun Terakhir Ungkap Krisis Air Tersembunyi
Internasional

Eropa Mengering: Data Satelit 20 Tahun Terakhir Ungkap Krisis Air Tersembunyi

Bagikan
Kekeringan, Image Makabera Pixabay
Bagikan

finnews.id – Krisis air di Eropa kini berubah menjadi isu serius yang tidak lagi bisa diabaikan. Kata kunci Eropa mengering muncul ketika data satelit mengungkap perubahan drastis dalam ketersediaan air tanah dan sumber daya air permukaan selama dua dekade terakhir. Melalui analisis ilmiah yang dilakukan University College London bersama lembaga riset lingkungan, pola perubahan air menunjukkan tren mengkhawatirkan yang didorong percepatan perubahan iklim. Fakta ini memberikan gambaran nyata bahwa ancaman kekeringan bukan hanya terjadi jauh di Afrika, Timur Tengah, atau Asia Selatan, tetapi kini muncul dekat pusat ekonomi dan politik dunia, yaitu Eropa.

Penelitian satelit dari tahun 2002 hingga 2024 menunjukkan ketidakseimbangan mencolok antara wilayah di selatan dan utara Eropa. Spanyol, Italia, Perancis, Swiss, Jerman, hingga wilayah Ukraina mengalami penurunan signifikan dalam cadangan air tanah dan permukaan. Sementara kawasan Skandinavia, wilayah barat Inggris, dan sebagian Portugal menunjukkan tren sebaliknya, yaitu peningkatan kelembaban. Pola ini menegaskan bahwa Eropa mengering bukan sekadar isu musiman, tetapi perubahan struktural pada sistem hidrologi yang dipicu pemanasan global.

Selain itu, para peneliti menemukan bahwa penurunan simpanan air tidak hanya terjadi pada permukaan seperti sungai dan danau, tetapi juga pada sistem bawah tanah yang lebih sulit pulih. Groundwater yang selama ini dianggap lebih stabil dibanding air permukaan ternyata memperlihatkan penurunan yang sesuai dengan pola kekeringan jangka panjang. Karena air tanah membutuhkan puluhan hingga ratusan tahun untuk kembali ke kondisi normal, tren ini menjadi sinyal bahaya bagi masa depan cadangan air minum publik.

Dalam wawancara penelitian tersebut, para ilmuwan menekankan bahwa pola hujan di Eropa juga berubah signifikan. Walau total curah hujan tahunan di beberapa wilayah tidak berkurang, distribusinya berubah tajam. Curah hujan deras dalam waktu singkat kini lebih sering terjadi dibanding hujan yang turun stabil sepanjang musim. Fenomena ini mempercepat limpasan permukaan, memperbesar risiko banjir, tetapi gagal mengisi sistem air tanah yang sangat dibutuhkan. Dengan kata lain, Eropa mengering terjadi bukan hanya karena kurangnya hujan, tetapi karena perubahan cara alam mendistribusikan air.

Selain cuaca, pola konsumsi air juga berperan besar dalam memperburuk keadaan. Permintaan air untuk pertanian, industri, serta peningkatan populasi mempercepat penurunan cadangan air. Data lembaga lingkungan Eropa menunjukkan peningkatan penggunaan air tanah sebesar lebih dari 6% dalam kurun dua dekade terakhir, terutama untuk memenuhi kebutuhan publik dan sektor pertanian. Situasi ini menciptakan tekanan ganda: cadangan air turun, sementara kebutuhan manusia meningkat.

Jika tren ini berlanjut tanpa intervensi serius, dampakinya luas. Ketahanan pangan terancam karena wilayah Eropa selatan, yang menjadi pusat produksi buah dan sayuran, menghadapi penurunan suplai air. Negara-negara yang bergantung pada impor bahan pangan dari wilayah tersebut juga akan merasakan efek langsung. Selain itu, ekosistem air tawar menghadapi risiko kerusakan permanen karena kehilangan kelembaban menyebabkan perubahan habitat dan berkurangnya keanekaragaman hayati.

Namun, para ahli mengatakan bahwa masih ada peluang untuk memperlambat atau mengurangi dampak kondisi ini. Solusi yang dianggap efektif mencakup efisiensi penggunaan air, modernisasi infrastruktur, desain kota yang lebih berkelanjutan, pemanfaatan air daur ulang, dan percepatan transisi energi yang mengurangi emisi karbon. Jika langkah ini diambil, Eropa mengering mungkin dapat dihentikan sebelum memasuki fase krisis total.

Akhirnya, data satelit selama 20 tahun ini menjadi pengingat keras bahwa krisis air tidak lagi menjadi ancaman masa depan. Ini adalah realitas hari ini. Kata kunci Eropa mengering bukan sekadar frasa, tetapi gambaran krisis iklim yang kini sudah terlihat dan sudah dirasakan oleh jutaan orang. Melalui pemahaman data ilmiah yang kuat, masyarakat dan pemerintah Eropa didorong bergerak cepat agar sumber daya air tidak hilang sebelum solusi diterapkan.

Sementara itu, para ilmuwan berharap hasil penelitian ini menjadi peringatan terakhir sebelum kondisi air di benua tersebut memasuki titik kritis tanpa jalan kembali. Dalam era perubahan iklim yang semakin ekstrem, memahami fakta, menyesuaikan kebijakan, dan memperbaiki cara manusia menggunakan air menjadi langkah paling realistis untuk mencegah kondisi dimana Eropa mengering menjadi kenyataan permanen.

Referensi:
The Guardian
European Environment Agency
University College London
NASA GRACE Satellite Data

Bagikan
Artikel Terkait
Kebakaran
Internasional

Hong Kong Berkabung setelah Tragedi Kebakaran Mematikan

finnews.id – Hong Kong berkabung selama tiga hari setelah kebakaran terbesar dalam...

Internasional

Pangeran William Kunjungi Pengungsi Gaza

finnews.id – Pangeran William kembali menarik perhatian publik setelah melakukan kunjungan pribadi...

Internasional

159 Orang Kehilangan Nyawa akibat Banjir di Sri Lanka

finnews.id – Banjir di Sri Lanka kembali menarik perhatian global setelah laporan...

Pesawat Kargo UPS Meledak
Internasional

Ribuan Pesawat Airbus Kembali Beroperasi setelah Update Darurat

finnews.id – Ribuan pesawat Airbus kembali beroperasi normal setelah mengalami grounding sementara...