Catatan Dahlan Iskan

Dokter Hewan

Bagikan
Dokter Hewan
Bagikan

Oleh: Dahlan Iskan

Yang terakhir bertemu drh Yuda adalah istri saya: bulan lalu. Sebelum dia berangkat saya berpesan pada istri: jangan bertanya apa pun soal kesehatan. Kasihan beliau. Bisa dianggap melanggar hukum: dokter hewan kok mendiagnosis manusia.

Dokter hewan Yuda sendiri tidak pernah mau menjawab pertanyaan orang yang datang. Apalagi kalau yang datang ke rumahnya itu mengeluhkan sakitnya. Agar diobati. Yuda pasti tidak mau melayani. Ia tahu itu melanggar hukum.

Pesan saya yang lain: jangan kaget kalau bertemu sosok Yuda. Jangan lihat penampilan fisiknya. Apalagi caranya berpakaian. Orangnya nyentrik. Berpakaian asal-asalan. Seperti seorang petani yang baru pulang dari tegalan. Jangan kaget pula kalau orangnya hanya pakai sandal.

Begitulah pengalaman saya bertemu dengannya. Di rumahnya. Di Magelang. Tiga tahun lalu.

Rumah itu masih terbilang di dalam kota. Bukan rumah yang mentereng. Terkesan rumah biasa yang kurang terawat.

Dari Magelang istri saya mengirim WA: “Sudah berubah. Pak Yuda cukup rapi. Pakai sepatu,” kata istri saya. “Beliau baru tiba dari kampus UGM. Selesai mengajar langsung ke Magelang,” ceritanyi.

Sesuai dengan pesan saya, istri tidak bertanya soal kesehatan. Tidak pula menyampaikan keluhan tentang diabetesnyi. Istri menyampaikan salam saya. Lalu ngobrol soal keluarga.

Setelah basa-basi seadanya istri menyampaikan niatnyi membeli skretum. Satu ampul disuntikkan di rumah Yuda itu. Lalu membeli delapan ampul lagi. Dibawa pulang. Empat untuk disuntikkan ke dirinyi sendiri. Empat lagi untuk saya. Memang ada yang bisa menyuntikkan skretum itu di rumah saya.

“Bawa uang berapa?” tanya istri sebelum berangkat.

“Bawa saja Rp 2,5 juta dikalikan delapan,” jawab saya.

Begitu meninggalkan rumah Yuda istri kirim WA: “harganya sudah naik. Jadi Rp 3 juta per ampul”.

Di rumah, istri mendapat suntikan skretum itu seminggu sekali. Saya tidak pernah melihatnya. Kebetulan saya sedang pergi ke Beijing. Agak lama.

Pulang dari Beijing saya dapat ultimatum dari istri. “Sisa yang empat ampul untuk saya lagi saja semua,” ujar istri. Saya pun mengalah –atau lebih tepatnya: takut menolak.

Bagikan
Artikel Terkait
Tempe Kedelai
Catatan Dahlan Iskan

Tempe Kedelai

Oleh: Dahlan Iskan Sedikit yang diharap. Justru banyak yang didapat. Kejutan seperti...

Tionghoa Sholehah
Catatan Dahlan Iskan

Tionghoa Sholehah

Oleh: Dahlan Iskan Kian banyak lembaga pengirim calon mahasiswa Indonesia ke Tiongkok....

Hijrah Riba
Catatan Dahlan Iskan

Hijrah Riba

Oleh: Dahlan Iskan Saya bertemu seorang pimpinan sembilan perusahaan. Ia bukan pemegang...

Panglima Merah
Catatan Dahlan Iskan

Panglima Merah

Oleh: Dahlan Iskan Ini hanya kebetulan: waktu saya mendarat di Pontianak, dua...