finnews.id –Jumlah korban meninggal akibat bencana gempa 7,7 skala Richter di Myanmar pada Jumat pekan lalu, kini mencapai 2.700 jiwa.
Otoritas setempat memperkirakan jumlah korban bisa capai 3000 jiwa seiring dengan upaya pencarian yang terus dilakukan di puing-puing bangunan pasca gempa tersebut.
Penguasa militer Myanmar, Min Aung Hlaing mengatakan, jumlah korban tewas akibat gempa mencapai 2.719 orang hingga Selasa pagi.
Jumlah itu diperkirakan akan melampaui 3.000. Sebab, sekitar 4.521 orang terluka dan 441 orang hilang.
Di antara mereka yang hilang, sebagian besar diduga telah meninggal
“Peluang mereka untuk tetap hidup sangat kecil,” katanya Min Aung Hlaing dalam pidatonya, dikutip dari Reuters.
Gempa bumi yang terjadi pada siang hari Jumat itu merupakan gempa bumi terkuat yang melanda negara Asia Tenggara itu dalam lebih dari satu abad.
Gempa tersebut merobohkan pagoda kuno dan bangunan modern serta menimbulkan kerusakan signifikan di kota kedua Myanmar, Mandalay dan Naypyitaw, ibu kota yang dibangun khusus oleh junta sebelumnya agar menjadi benteng yang tidak dapat ditembus.
Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mensurvei kerusakan akibat gempa tersebut, mendesak masyarakat global untuk meningkatkan bantuan sebelum musim hujan yang semakin dekat.
Penjabat koordinator kemanusiaan dan penduduk, Marcoluigi Corsi mengatakan, bantuan seperti air minum, kebersihan, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan merupakan kebutuhan paling kritis saat ini bagi korban yang mengungsi.
“Kami tentu saja tetap berkomitmen untuk menjangkau orang-orang di Myanmar yang membutuhkan bantuan,” kata juru bicara PBB Stephane Dujarric, dikutip dari Reuters, Selasa 2 April 2025.
“Dan kami harus bertindak cepat untuk memberikan bantuan sebelum musim hujan tiba, yang tentu saja akan memperburuk krisis yang mengerikan ini.” **