Prof Brahmana termasuk dokter yang tidak berhenti sebagai ilmuwan. Ia terus belajar –termasuk dalam melakukan operasi pakai robot dan pakai kecerdasan buatan.

Di dalam praktik dokternya ia sering menemukan kasus yang memerlukan keilmuan. Misalnya ada pasien kanker ovarium. Kankernyi sudah metastasis ke liver. Brahmana harus melakukan operasi konservatif. Ia pertahankan rahim dan satu indung telur pasien. Lalu mengangkat bagian liver yang ada metastasisnya. Setelah itu baru dikemoterapi.

“Sekarang dia sehat. Anaknyi sudah dua orang,” katanya.

Lalu ada kasus seorang ibu hamil anak pertama. Ibu itu mengidap mioma (tumor jinak rahim). Tumornyi sudah 30 cm. Akhirnya bayi bisa lahir sehat melalui operasi sesar. Saat itulah sekaligus diangkat miomanyi. Tanpa harus mengangkat rahimnyi. Sekarang ibu itu sudah punya anak dua.

Ada lagi yang terkena kanker serviks. Hamil. Ketika ditemukan stadium kanker serviksnyi termasuk lanjut –stadium IIB. Pasien mendapat kemoterapi enam seri saat hamil. Setelah cukup bulan dilakukan operasi caesar –sekalian operasi untuk kanker serviks. Termasuk mengangkat rahim dan kelenjar getah bening. Itu termasuk operasi histerektomi radikal. Saat ini ibu dan bayinyi sehat.

Memang baru hari ini Prof Brahmana menerima gelar guru besar. Tapi sudah agak lama saya memanggilnya profesor. (Dahlan Iskan)