—
Kepada para dokter itu saya sekali lagi mengucapkan terima kasih. Saya juga melaporkan keadaan Nisa dan suami yang sehat sekali –sudah bisa naik haji pula.
Tidak hanya itu: saya juga minta bantuan mereka sekali lagi. Seorang suami warga Surabaya hari itu tiba di Beijing untuk keperluan yang sama. Istrinya juga sudah siap memberikan separo hatinyi kepada sang suami.
Sang suami sempat ngambek. Ia tidak mau berangkat ke Beijing. Batal. Yakni ketika tahu istrinyalah yang akan memberikan separo hatinyi untuk menyelamatkan nyawanya.
Di Surabaya sang suami sudah keluar masuk rumah sakit. Sudah pula berobat ke Singapura. Perutnya membesar. Cairan dari perut harus dikeluarkan. Ketika diberi tahu satu-satunya jalan menuju sembuh hanyalah transplantasi ia akhirnya mau.
Rupanya ia mengira akan bisa dapat hati dari orang yang meninggal di Tiongkok –seperti saya dulu. Ia tidak tahu kalau yang seperti itu sudah tidak boleh lagi. Hati orang Tiongkok yang meninggal dunia harus hanya untuk orang Tiongkok –yang juga antre panjang.
Begitu tahu akan diambilkan dari hati istri ia tidak mau transplant. Pilih pengobatan cara lain. Saya pun minta bantuan Nisa untuk ikut memberi penjelasan. Nisa jadi contoh hidup: bagaimana orang yang hatinya diambil separo tidak apa-apa. Dalam tiga bulan hati Nisa sudah tumbuh kembali utuh seperti sedia kala. Pun separo hati yang dipasang di tubuh suami sudah tumbuh dan menjadi satu hati yang utuh.
Setelah mendengar penjelasan Nisa akhirnya sang suami bersedia berangkat. Awalnya saya sendiri yang akan mengantarkannya ke Beijing. Nisa juga sudah siap mengantar kalau saya tidak punya waktu di tanggal yang ditentukan.
Saya sudah menghubungi dokter. Nisa sudah mengirimkan data medis pasien itu ke Beijing. Rumah sakit sudah siap menerima. Semuanya sudah siap. Tinggal berangkat.
Ternyata anak perempuan pasien itu bisa berbahasa Mandarin. Bahasa Mandarinnyi sangat bagus. Dia lulusan SMA Xin Zhong, Surabaya. Maka saya atau Nisa tidak perlu mengantar. Toh semuanya sudah siap. Dan lagi di waktu hampir bersamaan saya juga ke Beijing.