—

“Itu gedung baru Bank Indonesia,” katanya. Saya tidak bisa membayangkan kalau siang bentuknya seperti apa. Kelak, keesokan harinya, saya baru tahu: bagus, tapi secara arsitektural tidak bisa ditonjolkan sebagai salah satu ikon IKN.

Secara tidak sengaja malam itu kami lewat depan Istana Wakil Presiden. Juga remang-remang. Kalau tidak mendekat ke pintu gerbangnya tulisan Istana Wakil Presiden di dinding tembok luar itu tidak terbaca. Mungkin memang sengaja didesain seperti itu: agar lebih elegan.

Istananya sendiri berada jauh tinggi di atas bukit sana. Ada jalan mobil yang meliuk naik. Ada juga tangga untuk yang pejalan kaki: 200 anak tangga.

Dari Istana itu wapres bisa melihat ke bawah, ke perumahan para menteri di lembah sebelahnya. Dari teras istananya wapres bisa melihat langsung ke lembah: siapa menteri yang sudah meninggalkan rumah untuk ke kantor masing-masing.

—

Saya lihat perumahan menteri itu sudah siap dihuni –kapan-kapan.

Yang malam tampak tetap megah adalah gedung-gedung tinggi kompleks Kemenko. Semua menko berkantor di satu kompleks dekat Istana. Mungkin jumlah gedungnya kini tidak cukup lagi karena Kemenkonya sudah bertambah satu. Atau yang ada itu dibagi-bagi secukupnya.

Akhirnya kami sampai di restoran –di atas bukit kecil di pinggir jalan raya. Kami pilih meja outdoor sambil lihat pemandangan luar. Ada delapan meja di terasnya: hanya satu yang kosong. Kami ke yang kosong itu.

Kami memesan banyak makanan: patin kuah asam, soto betawi, nila asam manis, perkedel jagung, tahu isi, karedok, dan dua lagi yang masih ingat rasanya tapi lupa namanya.

—

Di seberang resto itu berdiri sembilan atau sepuluh tower. Itulah apartemen untuk pegawai yang sudah pindah ke IKN. Sudah ada yang tinggal di situ tapi belum banyak. Di lokasi lain ada lagi kompleks apartemen dengan sejumlah tower seperti itu. Juga baru sedikit yang berpenghuni.

Yang memenuhi restoran malam itu adalah mereka yang menghuni apartemen itu. Meski masing-masing tower ada kantinnya, mereka perlu cari variasi makanan resto.