Nama ”Pak Enggar” disebut di situ hanya sebagai contoh fiksi untuk tidak menyebut nama pengusaha tambang yang sebenarnya. Enggartiasto Lukita adalah pemilik B-Universe –induk Investor Daily yang menyelenggarakan summit kemarin. Enggar orang Cirebon yang sukses jadi pengusaha besar di Jakarta –pernah jadi ketua REI Pusat, anggota DPR, ketua Nasdem, dan ketua Golkar pusat.

—

“Kalau mau balik ke Golkar masih diterima,” ujar Bahlil yang juga ketua umum Partai Golkar. “Pak Suswono pun kalau mau balik ke Golkar pintu masih terbuka,” katanya.

Siswono Yudo Husodo, 84 tahun, mantan menteri perumahan, memang duduk di barisan depan. Di situ tampak juga Hatta Rajasa, Bambang Soesatyo dan Anwar Usman yang ketiganya baru dilantik jadi pimpinan dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

Saya pun bertanya kepada salah satu anggota Wantimpres itu: benarkah gaji mereka sebesar Rp76 juta/bulan. Semula saya tidak percaya gaji Wantimpres naik sedrastis itu. Kalau benar, itu keterlaluan. Ternyata dibenarkan. Itu mengacu ke gaji anggota DPR. Hanya saja untuk anggota DPR masih banyak tambahan tunjangan macam-macam lagi.

Di summit kemarin, Bahlil sebagai orang Papua, telah berhasil membuat satu kata dalam bahasa Papua menjadi menasional: abuleke.

Sepanjang summit saya menyimak isi pidato-pidato itu dengan seksama. Sekalian bernostalgia semasa jadi reporter muda. Bedanya, sekarang saya bisa sambil menilai: mana pidato yang berisi dan mana yang hanya abuleke.

Kemarin saya juga punya catatan khusus: pidato Bahlil sudah sangat berisi. Runtut. Logis. Jelas. Rupanya Bahlil tergolong orang yang fast learner. Celetukan lucunya masih ada –dan itu juga penting– tapi sudah lebih terkontrol. Ia bukan lagi golongan abuleke.

Yang tampil setelah Bahlil adalah Hashim Djojohadikusumo –adik Presiden Prabowo. Hasyim melihat ada dua sektor yang bisa membuat ”Indonesia Terang”. Pertama sektor perumahan dengan segala kaitan langsungnya. Ekonomi Tiongkok, katanya, bisa tumbuh tinggi karena berpuluh tahun lamanya sektor perumahan menyumbang pertumbuhan sampai 30 persen. “Kita baru 14 persen,” ujar Hashim.