Oleh: Dahlan Iskan

Ini seperti sambaran petir tanpa mendung dan hujan. Baik pelantikannya sebagai kapolri, maupun apa yang dilakukannya setelah jadi kapolri yang baru: Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto –mungkin hari ini ia sudah naik pangkat dari Komjen bintang tiga ke Jenderal Polisi bintang empat.

Tidak sampai 24 jam menduduki jabatan orang nomor satu di Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Suyudi sudah melakukan mutasi sebanyak 88 perwira tinggi dan menengah –termasuk 17 kapolda se-Indonesia. Rasanya belum pernah ada petir yang sekilat ini sebelumnya.

Pelantikannya sebagai Kapolri sendiri tidak kalah kilatnya: Kamis 1 Oktober menjelang siang Suyudi menjalani fit and proper test di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Siang itu juga dilantik sebagai kapolri di Istana. Tidak sempat beredar gunjingan. Kurang dari lima jam setelah itu Presiden Prabowo Subiyanto melantiknya sebagai kapolri.

Fit and proper test-nya pun tidak sampai satu jam. Bahkan tidak sampai setengah jam. DPR langsung setuju dengan usulan Presiden Prabowo. Di hal-hal tertentu proses yang kilat memang ada baiknya: tidak sempat ”masuk angin”.

Tidak pernah ada akselerasi proses sekilat itu. Seolah semuanya dipersiapkan secara rahasia tingkat langit: mulai dari pengiriman surat presiden berisi calon tunggal kapolri ke DPR, undangan pimpinan DPR ke anggota Komisi III, proses sidang fit and proper test calon kapolri di Komisi III, kesimpulan hasil tes, pengiriman hasil tes DPR ke Presiden, terbitnya putusan Presiden, sampai pelantikannya.

Pun apa yang dilakukan kapolri baru Suyudi. Tidak kalah kilatnya. Satu-satunya berita di luar kedinasan setelah pelantikannya hanyalah: Jenderal Suyudi sungkem ke ibunya. Tidak ada berita pesta kegembiraan karena menjadi kapolri.

Rupanya setelah sungkem ke ibunya itu Suyudi langsung ”mengarantina diri” mengutak-atik penggantian 88 pejabat teras di Mabes Polri –sampai ke 17 kapolda: siapa diberhentikan, siapa diganti, siapa mengganti, siapa digeser, siapa yang menggeser. Begitu cepatnya.