Lihatlah grafik yang menyertai tulisan ini: awalnya ekspor hasil hilirisasi nikel mencapai USD315 juta. Begitu muncul jenis industri lanjutannya ekspor melonjak sampai ke USD1.266 juta. Itu angka bandingan tahun 2025 dan 2026 –sama-sama enam bulan pertama.

—

Itu yang disebut invisible impact: kemajuan melahirkan kemajuan yang lain.

Yang saya khawatirkan adalah ini: Presiden Prabowo akan memaksakan hilirisasi batu bara. Yakni mengubah batu bara menjadi gas. Secara teori dan secara ilmu itu sangat baik dan ideal. Tapi dalam praktik masih sangat sulit.

Apalagi harga batu bara 4.000 kalori kini sudah USD80/ton. Kalau dijadikan gas harga gasnya bisa USD18/MMBTU. Sedang harga gas alam sekarang di bawah itu.

Memang secara teknologi sudah ada yang membuktikan: Amerika, Afrika Selatan, Tiongkok. Batu bara dipanaskan di ruang tanpa oksigen: menjadi gas sintetis. Lalu sin gas itu diproses lebih lanjut: dimurnikan. Jadilah gas setara gas alam.

Kelihatannya sederhana dan beres. Tapi stabilitas harga batu bara sulit dipegang.

Memang persoalan gas sekarang ini rumit sekali. Industri sudah banyak yang tergantung pada gas. Tapi banyak industri tidak mendapat kepastian pasokan gas. Termasuk kepastian harga. Industri di Jawa Barat yang paling menderita soal gas ini.

Mungkinkah Presiden Prabowo akan memaksakan seluruh batu bara Indonesia diolah jadi gas? Apakah itu yang menyebabkan Agus Gumiwang diganti? Atau itu skenario Bahlil saja: untuk konsolidasi Golkar?

Secara politik reshuffle ini banyak dihubungkan Jokowi. Secara ekonomi dihubungkan ke Bahlil. (Dahlan Iskan)