Usai acara kami diajak keliling lokasi: pakai mobil. Kami ke proyek induk Pusbatara. Akan ada gerbang besar tiga pintu tanpa daun pintu di bagian depannya. Gerbang itu menggunakan gaya arsitektur Cirebon. Gerbang ini dinamakan Gerbang Kebahagiaan.

Melewati gerbang itu Anda akan masuk plasa luas yang rindang oleh pepohonan: lebar 50 meter. Panjangnya 200 meter. Anda jalan kaki di plasa itu menuju gedung utama: Graha Dunia Satu Keluarga.

Gedung ini besar sekali. Ukurannya 120 x 160 meter. Di bagian tengahnya akan dibangun istimewa: gedung kedamaian. Bentuk gedungnya melingkar tinggi. Tinggi atapnya 56 meter. Maka kalau Anda berada di dalam gedung ini tercipta suasana hening dan bening. Hening di hati, bening di pikiran. Akustik gedung ini akan dibuat istimewa kedap suara. Setara dengan akustik musichall terbaik di dunia.

—

Saat diminta memberi sambutan saya pun menjelaskan betapa berat mewujudkan misi mulia seperti ini. Terutama di tengah zaman hedon, rakus, dan kapitalistik.

Ternyata gerakan memuliakan kehidupan dan alam seperti Pusbatara juga ada di negara lain. Mereka sama-sama ingin mengembangkan Budaya Kasih Semesta.

Mereka terkoneksi dalam satu aliansi INLA –International Nature Loving Association. Pendirinya Wang Tzu Kuang yang mereka sebut sebagai Master Wang –orang Taiwan. Ini berbeda dengan Buddha Tzu Chi yang juga berasal dari Taiwan.

—

Gerakan mirip Pusbatara itu kini ada di Hong Kong, Jepang, Korea, Malaysia, dan Singapura. Itu bukan gerakan agama atau ideologi tertentu. Mereka murni mengembangkan budaya baru: Budaya Kasih Semesta. Etika, nilai, moralitas, cinta, dan menyatu dengan alam menjadi jiwa hidup mereka. Tapi saya lihat mereka umumnya terafiliasi dengan Buddha Maitreya.

Anda sudah tahu: dunia ini ternyata milik bersama. Bukan hanya milik yang kaya-kaya saja.

Maka kita melihat kenyataan: di satu pihak ada orang-orang yang memperjuangkan nilai-nilai, etika, dan moralitas mulia seperti di Pusbatara, di lain pihak banyak orang yang punya pikiran: “Tuhan itu baik. Tapi hanya uang yang bisa membuat orang mengatakan Tuhan itu baik”. (Dahlan Iskan)