Surabaya-Vladivostok memang punya hubungan khusus: sama-sama menjadi basis angkatan laut. Di masa lalu banyak anggota TNI-AL ke Vladivostok. Sekolah. Kursus. Pelatihan. Monkasel yang di Surabaya itu pun kapal selam buatan Rusia –buatan galangan kapal di Vladivostok.

Yang dipajang di Vladivostok itu kapal selam pensiunan perang dunia kedua. Yang dipajang di Surabaya lebih muda: angkatan Trikora perebutan Papua di tahun 1950-an.

Saya beli karcis masuk Monkasel.

“Kapan itu ada orang Indonesia ke sini. Angkatan Laut. Pangkatnya tinggi,” ujar petugas jaga pintu masuknya. Dia pun membuka HP. Cari-cari foto. “Saya berfoto dengan mereka,” tambahnyi.

Ketemu. Dua orang itu pakai jas TNI-AL. Masih muda. Gagah. Ganteng. Saya baca nama yang tertera di dada. Saya pun tahu siapa mereka.

Kian siang kian ramai. Banyak rombongan tur tiba dengan bus wisata: 90 persen berwajah Tionghoa. Tour leader-nya juga berwajah Tionghoa. Penjelasannya pakai bahasa Mandarin.

Saya dekati beberapa dari mereka. Saya ajak ngobrol pakai bahasa Mandarin. Ada yang datang dari provinsi Shandong. Suami-istri. Mereka berangkat naik kereta api dua hari dua malam ke kota terakhir Tiongkok yang paling dekat dengan Vladivostok. Lalu ganti naik bus melintas perbatasan.

“Saya TikToker,” katanya memperkenalkan diri sambil menunjuk kamera khusus yang menempel di dadanya.

“Bisa dapat uang dari TikTok?”

“Hahaa…. Tidak. Tapi saya senang,” katanya. Ia pun memberi saya akun TikToknya: 804471982.

Suami-istri itu pensiunan BUMN di Tiongkok. Mereka akan tiga hari di Vladivostok. “Wilayah ini dulunya milik Tiongkok,” katanya. “Sedih,” tambahnya.

Rupanya ia akan bikin laporan perjalanan untuk rakyat Tiongkok. Inilah kondisi Vladivostok saat ini, wilayah yang dulunya milik Tiongkok”.(Dahlan Iskan)