Yang ketiga, ini dia: soal batu bara. Nilainya Rp 5 triliun. Yang menurut Irjen Pol Totok menjadi penyebab black out –mati lampu– di berbagai daerah Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.

Dua perusahaan batu bara menjadi pemasok emas hitam itu ke PLN: PT Oktasan Baruna Persada dan PT Buana Rizky Armia. Itu dua tapi satu. Mereka terikat dalam satu konsorsium.

PT Oktasan berkantor di Jakarta Selatan. PT Buana berlokasi di Bantuas, Palaran, sepelemparan batu dari Samarinda.

Polisi menemukan kejahatan dua perusahaan itu: kirim batu bara ke PLN tidak sesuai dengan kontrak. Batu bara yang dikirim berkalori rendah: 3.000-an GAR. Padahal seharusnya 4.400-an GAR. PLTU-2 PLN memang dirancang untuk dijalankan dengan batu bara kalori 4.400 GAR ke atas. Kalau diberi ”makan” jenis 3.000-an GAR ibarat perut Yuni Shara atau Syifa Hadju dikasih makan gaplek mentah.

Akibatnya Anda sudah tahu: PLTU yang seharusnya, misalnya, menghasilkan listrik 1.000 MW hanya menghasilkan 600 MW. Produksi listrik berkurang banyak. Akibat buruk lainnya: secara teknis PLTU terus bermasalah. Rusak dan rusak lagi.

Sudah sejak enam tahun terakhir batu bara yang berkalori 4.000 ke atas memang diekspor habis-habisan. Harga ekspor memang sangat tinggi. PLTU di dalam negeri tinggal dapat ”sampah” nya. Secara fisik sering sudah tidak terlihat seperti batu bara. Sudah seperti tanah –yang kalau terkena hujan seperti lumpur.

Semua itu terungkap berkat laporan sebuah LSM Antikorupsi bernama Koalisi Sipil Masyarakat Anti Korupsi (KOSMAK). Ketuanya: Ronald Loblobly.

Memang ada pertanyaan besar: mengapa PLN mau menerima batu bara yang kualitasnya rendah. Kenapa tidak ditolak.

Jawabnya ada tiga pilihan: (a) petugas bagian penerimaan kena sogok, (b) dipaksa kekuatan luar untuk menerima, (c) PLN terpaksa menerima karena tidak ada batu bara lagi –yang kalau tidak diterima berarti listrik padam total.

Kelihatannya kombinasi jawaban ”b” dan ”c” yang terjadi. Indikasinya: meski batu bara yang dikirim 3.000 kalori, tagihannya ke PLN 4.000 kalori. Tidak mungkin orang PLN mau dan berani melakukan kesembronoan seperti itu.