Misalnya saat saya nonton siaran langsung Brasil-Norwegia kemarin. Saya pilih nonton di lokasi kesukaan saya: sport bar. Banyak layar tv-nya. Bisa sambil makan malam meski pukul 20.00 matahari Quebec City masih tinggi.

Di sport bar itu enam layar tv-nya menyala semua. Lebar semua. Sepak bola semua. Hanya satu layar yang menampilkan baseball. Tapi semua yang ada di bar itu nonton baseball. Hanya kami sendiri yang nonton sepak bola. Memang perlu waktu untuk bisa pindah menjadi gibol. Siapa tahu segera setelah piala dunia berakhir.

Kita pernah jadi tuan rumah Piala Dunia meski untuk usia di bawah 23 tahun. Yakni tiga tahun lalu. Kalau ditanya apakah ada kemajuan besar di dunia sepak bola Indonesia setelah itu? Anda bisa menjawab lebih baik.

Kita itu gibolnya sudah, yang belum tinggal jadi Pantai Gading atau Cape Verde yang nyaris mengalahkan Argentina itu.

Dua tahun lalu saya hampir saja mengajak banyak pihak untuk mendeklarasikan bahwa sekolah sepak bola itu, SSB, juga sekolah. Pantas mendapat bagian dana pendidikan yang luar biasa besarnya itu: 20 persen dari APBN.

Maka salah satu pembinaan prestasi jangka panjang bisa dimulai dari sekolah sepak bola. Tiap SSB diwajibkan mencari 22 anak umur delapan, 10, dan 12 tahun sebagai murid jalur unggulan. Katakanlah seperti Taruna Nusantara-nya SSB. Mereka diberi makan yang bergizi. Diberi pelatihan yang ilmiah. Lalu diadakan kompetisi tiga bulanan antar SSB unggulan.

Saya perlu waktu mematangkan ide itu sebelum saya utarakan ke para gibolis yang punya SSB. Tapi ketika perumusan ide itu belum matang datanglah MBG.

Saya urungkan niat menggunakan jalur SSB untuk pembinaan sepak bola menuju piala dunia. APBN sudah tersedot begitu banyak di MBG. Tidak selayaknya disedot pula untuk SSB.

Maka setiap ada piala dunia omongan kita masih akan sama: kapan Indonesia yang berpenduduk hampir 300 jiwa bisa seperti Cape Verde yang hanya berpenduduk –Anda sudah tahu.

Setidaknya kita masih punya kambing hitam yang lebih hitam: Tiongkok saja yang berpenduduk 1,3 miliar belum juga bisa ikut piala dunia. (Dahlan Iskan)