Upacara penutupan seperti itu dilakukan tiap hari kerja. Tiap pukul 16.00. Yang membunyikan bel bergantian: kadang presiden negara asing, kadang pimpinan perusahaan, kadang tokoh publik yang diundang. Hari itu yang membunyikan bel seorang CEO perusahaam energi Amerika.
Kami sudah tiba di NYSE pukul 15.40. Sebelum penutupan itu saya diajak keliling lantai bursa. Yang terlihat hanya jejeran layar-layar komputer. Di mana-mana. Di atas, di bawah, di depan, di belakang, di samping-samping. Yang terlihay di layar-layar itu hanya angka, grafik, angka, grafik, merah, hijau, merah, hijau. Itulah angka-angka pergerakan harga saham.
—
Tapi sore kemarin ada yang beda: di sela-sela layar itu ada layar yang menayangkan live sepak bola Piala Dunia. Tidak hanya di satu booth broker, tapi di banyak booth. Hanya beberapa yang tidak menghidupkan layar sepak bola.
Menjelang pukul 16.00 keliling lantai bursa selesai. Kami diajak ke depan podium tempat upacara penutupan dilalukan. Sekitar 15 orang yang bersama kami di penutupan itu. Toh itu acara live di CNBC.
Di situlah utusan pimpinan NYSE menyerahkan map kepada saya. Isinya: sebuah surat khusus. Tentu saya harus merahasiakan isinya dari intelijen “perusuh” Disway.
Usai acara, kami melihat-lihat galeri ruang depan NYSE. Terlihat karya seni modern yang serba kaca: patung seorang analis saham sedang di depan laptop, patung kerbau kaca yang menggambarkan harga saham yang sedang bullist.
Sampai pukul 18.00 saya masih di depan gedung NYSE. Di situlah saya live bersama Sasa di Dismorning –pukul 05.00 WIB. Sebagian dari kami sudah lebih dulu menuju restoran di China Town Manhattan: agar dapat tempat untuk makan enam orang.
Saya lupa: earphone untuk Dismorning terbawa mereka ke restoran. Saya kelabakan. Lalu pakai seadanya: Anda lihat hasilnya: buruk sekali.
Dari resto kami balik ke hotel pakai kereta bawah tanah. Maksudnya agar cepat. Nyatanya kena blokade bobotoh Samba yang menduduki sepenuhnya Times Square.
Pukul 02.00 saya terbangun. Saya melongok ke bawah dari jendela kamar saya di lantai 31: Times Square masih penuh dengan Bobotoh kuning. (Dahlan Iskan)