Wawan yang juga pengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan dalam situasi saat ini, kenaikan harga LNG bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di semua negara termasuk negara-negara berkembang di kawasan.

Data pasar menunjukkan, harga LNG industri di Filipina saat ini mencapai sekitar USD 28,50 per MMBTU (S&P Global / Shell FGEN 2026) dan di Vietnam sekitar USD 27,81 per MMBTU (Petrovietnam / IEEFA 2026).

Sedangkan di Singapura, untuk pengguna industri skala besar (bulk) harga LNG di sana telah mencapai USD 40,12 per MMBTU (City Energy / SP Group, April 2026). Adapun untuk pengguna retail dan umum di Singapura harganya sebesar USD 47,54 per MMBTU (City Energy / EMA Singapore, April 2026).

Sebagai perbandingan, harga LNG di Indonesia setelah dilakukan penyesuaian akibat kenaikan harga energi global akan berada di rentang USD21 -25 per MMBTU. Harga LNG di Indonesia sepanjang setengah tahun ini ditahan di level rendah yaitu sejak Januari 2026 ketika harga energi dunia dan LNG secara global sudah mengalami kenaikan.

Terpisah, Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan situasi terjadinya lonjakan harga energi global sebagai dampak geopolitik memang menciptakan tantangan yang perlu dihadapi bersama. ”Situasi ini menyebabkan adanya twin dilemma. Industri penyedia energi menghadapi lonjakan biaya operasional dan tekanan regulasi, sementara industri pengguna mengalami kenaikan biaya produksi yang terkadang tidak bisa diteruskan ke konsumen,” ungkapnya, kepada wartawan.

Kenaikan harga seluruh energi non-subsidi termasuk LNG menjadi keniscayaan karena terjadi secara global. Meski begitu, membela satu sektor misalnya sektor industri pengguna dan mengorbankan industri penyedia energi maupun sebaliknya, kata David, bukan merupakan solusi yang berkelanjutan. ”Justru dapat menimbulkan masalah baru,” tegasnya.(*)