finnews.id – Rafael van der Vaart menyampaikan permintaan maaf setelah komentarnya mengenai tim nasional Jepang memicu kontroversi di tengah gelaran Piala Dunia 2026.
Mantan gelandang Belanda tersebut menjadi sorotan saat bertugas sebagai analis untuk stasiun televisi NOS TV dalam pertandingan Grup F Piala Dunia 2026 antara Jepang dan Belanda. Laga yang berakhir imbang 2-2 itu memunculkan polemik di luar lapangan setelah komentar yang disampaikan Van der Vaart saat siaran langsung.
Kontroversi bermula ketika Van der Vaart mengulas kegagalan bek Belanda Micky van de Ven dalam mengawal pergerakan penyerang Jepang Koki Ogawa yang berhasil mencetak gol penyeimbang bagi tim Samurai Biru. Dalam analisisnya, mantan pemain Real Madrid dan Tottenham Hotspur tersebut mengatakan bahwa para pemain Jepang “semuanya terlihat sama”.
Pernyataan itu segera memicu kritik di media sosial dan menuai reaksi dari berbagai pihak. Banyak warganet menilai komentar tersebut tidak pantas karena berpotensi memperkuat stereotip terhadap masyarakat Asia Timur.
Menanggapi gelombang kritik yang muncul, Van der Vaart kemudian mengeluarkan pernyataan resmi untuk menyampaikan permintaan maaf. Pria berusia 43 tahun itu menegaskan bahwa dirinya tidak pernah berniat menghina atau mendiskriminasi siapa pun.
“Saya tidak pernah berniat menyinggung, menyakiti, atau mendiskriminasi siapa pun. Saya menentang rasisme dalam segala bentuk dan menghormati orang-orang dari semua latar belakang, etnis, dan budaya,” ujar Van der Vaart.
Ia juga mengakui bahwa komentarnya dapat dianggap menyakitkan oleh sebagian orang.
“Saya memahami bahwa beberapa orang mungkin menganggap kata-kata saya menyinggung atau menyakitkan. Saya sungguh menyesali hal itu. Jika komentar saya menyebabkan rasa sakit atau ketidaknyamanan, saya menyampaikan permintaan maaf yang tulus,” lanjutnya.
Kontroversi tersebut turut mendapat perhatian dari organisasi antidisriminasi Kick It Out dan Frank Soo Foundation. Dalam pernyataan bersama, kedua organisasi itu menyebut komentar Van der Vaart sebagai sesuatu yang mengecewakan dan mengingatkan bahwa ucapan semacam itu dapat berdampak pada komunitas Asia Timur maupun Asia Tenggara.
Mereka juga menegaskan bahwa niat seseorang tidak selalu menghapus dampak yang ditimbulkan oleh sebuah pernyataan. Karena itu, para komentator dan tokoh publik diminta lebih berhati-hati saat berbicara dalam siaran yang ditonton audiens internasional.
Selain mengkritik komentar tersebut, kedua organisasi itu meminta lembaga penyiaran untuk memberikan edukasi dan pelatihan yang lebih baik terkait keberagaman, inklusivitas, dan sensitivitas budaya kepada para narasumber maupun komentator.
Kasus ini menjadi salah satu kontroversi yang mencuat di Piala Dunia 2026. Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap ucapan yang disampaikan dalam ajang olahraga terbesar di dunia dapat memperoleh sorotan luas dan berdampak pada berbagai kelompok masyarakat.
Referensi: