Catatan Dahlan Iskan

Rujak Ambon

Catatan Dahlan Iskan

Bagikan
Bagikan

 

Saya menyesal membeli tiket termahal. Kabin untuk kelas terbaik ini ternyata di bagian atas-depan kapal. Duduk di tempat seperti itu berarti akan menerima goyangan ombak lebih kuat. Bisa pusing diayun gelombang. Kelak, baliknya, kursi itu tidak saya tempati. Kami pilih di bagian bawah paling belakang kapal. Di dek terbuka. Lebih tenang. Bisa menulis banyak artikel tanpa pusing kepala. Juga bisa podcast bersama Sasa untuk Dismorning hari itu.

 

Tiba di Banda pun kami belum tahu akan bermalam di hotel apa. Pengetahuan tentang Banda tidak banyak. Saya juga tidak mau terpengaruh pendapat orang. Maka mobil yang menawarkan diri untuk kami saya minta keliling kota dulu. Kami mau banding-bandingkan hotel mana yang memenuhi selera.

Pilihan kami jatuh ke hotel di depan Benteng Banda.

Hotel yang relatif baru tapi dibangun dengan arsitektur kolonial dari zaman VoC. Gerbangnya pun berlambang VoC. Tarifnya yang tidak terlalu VoC. (Dahlan Iskan)

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Kenari Tua

  Sepasang sumur tua hanya saya lihat sesapuan. Pun pohon sejuta umat....

Catatan Dahlan Iskan

Rumah Pala

  Kami terus memasuki kebun pala lebih ke dalam. Ini lagi musim...

Catatan Dahlan Iskan

New Rhun

Kalau sedang tidak musim pala –pohon pala berbuah tiga kali setahun– mereka...

Catatan Dahlan Iskan

Lu Biau

  Nama lengkapnya dulu: 卢比奥 (Lú bǐ ào). Namanya sekarang menjadi: 鲁比奥...