Kondisi ini memperkuat narasi bahwa kinerja PGAS tidak hanya terdorong faktor sementara, tetapi juga berasal dari kualitas operasional yang membaik.
Saka Energi Masih Jadi Beban, Tapi Ada Potensi Kejutan
Meski bisnis inti tampil solid, tantangan belum sepenuhnya hilang.
Anak usaha PGAS, Saka Energi, masih mencatat tekanan kinerja. Pada kuartal pertama 2026, Saka membukukan gross loss US$4 juta dan EBIT loss US$5 juta.
Tekanan itu muncul karena biaya melampaui average selling price, sementara volume lifting minyak dan gas turun 3% secara tahunan menjadi 1,4 juta barel setara minyak.
Realisasi tersebut baru mencapai 20% dari panduan FY26 sebesar 6,9 juta barel setara minyak.
Namun justru di titik ini pasar melihat potensi upside.
Jika kinerja Saka mulai pulih, dampaknya bisa signifikan terhadap valuasi PGAS karena selama ini bisnis tersebut dianggap menjadi beban bagi bisnis distribusi inti.
Target Harga Naik, Rating Buy Jadi Sorotan
Seiring hasil kuartalan yang lebih baik, proyeksi laba FY26 dan FY27 direvisi naik masing-masing 4%.
Bersamaan dengan itu, target harga saham PGAS dinaikkan menjadi Rp2.100 dari sebelumnya Rp1.800 per saham.
Valuasi baru ini masih menggunakan target price to earnings multiple 8 kali, namun basis valuasi digeser ke FY26.
Upgrade rekomendasi menjadi buy menambah sentimen positif karena pasar biasanya membaca perubahan rating sebagai sinyal adanya potensi rerating.
Dengan kata lain, cerita PGAS kini bukan lagi hanya defensif sebagai utilitas, tetapi mulai masuk radar pertumbuhan.
Apa yang Bisa Dorong PGAS Lebih Tinggi?
Ada dua katalis utama yang kini dipantau pasar.
Pertama, potensi pemulihan volume distribusi pada kuartal II-2026 setelah pemeliharaan pipa selesai dan faktor musiman Lebaran berlalu.
Jika volume pulih sementara spread tetap tinggi, kombinasi itu bisa mendorong margin makin agresif.
Kedua, pasokan gas berbasis LNG dari sumber domestik yang disebut sudah aman memberi bantalan tambahan bagi operasional distribusi.
Kombinasi ini menjadi alasan mengapa prospek PGAS mulai terlihat lebih menarik.
Risiko Tetap Ada, Tapi Pasar Fokus ke Upside
Tentu tidak semua tanpa risiko.