“Beberapa orang menyebutnya headline bingo, saya menyebutnya headline roulette. Kita bisa tiba-tiba berada dalam kondisi pasokan yang jauh lebih buruk,” ujarnya.
Meski ada perpanjangan gencatan senjata melalui mediator Pakistan, ketidakpastian tetap tinggi. Trump bahkan belum menentukan batas waktu jelas untuk gencatan tersebut.
Pasokan Masih Mengalir, Tapi Risiko Besar Mengintai
Data dari Vortexa menunjukkan sekitar 10,7 juta barel minyak Iran masih berhasil diekspor antara 13 hingga 21 April. Namun, tekanan tetap terasa karena militer AS disebut telah mencegat tiga kapal tanker Iran di kawasan Asia dan mengalihkan rutenya.
Langkah ini menambah ketegangan di jalur distribusi energi yang sudah rapuh. Jika gangguan semakin meluas, pasar bisa menghadapi lonjakan harga yang lebih ekstrem.
Harapan Normalisasi Masih Ada, Tapi Tipis
Di tengah tekanan, sebagian pelaku pasar masih berharap kondisi akan membaik. Survei Federal Reserve Bank of Dallas terhadap 120 eksekutif migas menunjukkan 39% responden memperkirakan lalu lintas di Selat Hormuz kembali normal pada Agustus.
Sebanyak 26% memprediksi pemulihan terjadi pada November, sementara 20% optimistis kondisi bisa pulih lebih cepat pada Mei.
Analis Price Futures Group, Phil Flynn, menilai kepercayaan pasar masih menjadi penahan lonjakan harga yang lebih tinggi. “Pasar masih percaya akan ada jalan keluar dari situasi ini,” katanya.
Meski begitu, risiko tetap besar. Ketidakpastian geopolitik yang belum mereda membuat pasar energi global berada dalam posisi rentan. Jika konflik meningkat, harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi dalam waktu singkat. (*)