finnews.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengguncang panggung politik internasional. Kali ini, ia secara terbuka mempertimbangkan untuk menarik keanggotaan Amerika Serikat dari NATO. Langkah drastis ini muncul sebagai bentuk kekecewaan Trump setelah negara-negara sekutu menolak memberikan dukungan militer dalam konflik melawan Iran.
Dalam wawancara eksklusif bersama The Telegraph, Rabu, 1 April 2026, Trump memberikan label pedas kepada organisasi pertahanan tersebut. Ia menyebut NATO tak lebih dari sebuah “macan kertas” yang tidak memiliki kekuatan nyata saat dibutuhkan.
Kekecewaan Trump atas Penolakan Sekutu di Selat Hormuz
Ketegangan ini berawal dari keengganan para anggota NATO untuk membantu AS membuka kembali Selat Hormuz. Padahal, jalur maritim vital ini menampung sekitar 20% pengiriman minyak mentah dunia. Aksi Iran yang menutup selat tersebut selama berminggu-minggu telah memicu lonjakan harga energi dan membayangi dunia dengan ancaman resesi global.
Trump merasa dukungan dari sekutu seharusnya bersifat otomatis tanpa perlu ia minta secara paksa. Ia membandingkan situasi ini dengan keterlibatan AS di Ukraina.
“Ukraina sebenarnya bukan urusan kita. Tapi kita ada di sana untuk mereka. Sebaliknya, mereka (sekutu) justru tidak ada saat kita membutuhkan,” keluh Trump dengan nada bicara yang blak-blakan.
Kritik Tajam untuk PM Inggris dan Kapal Induk yang Rusak
Tidak hanya menyasar aliansi secara umum, Trump juga melontarkan kritik personal kepada Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. Ia merasa kecewa karena Inggris menolak bergabung dalam koalisi perang AS-Israel melawan Iran.
Secara mengejutkan, Trump meragukan kapasitas militer Inggris saat ini. “Anda bahkan tidak punya angkatan laut. Peralatan Anda terlalu tua dan kapal induk Anda tidak berfungsi dengan baik,” sindir Trump merujuk pada armada kapal perang Inggris.
Selain masalah militer, Trump juga mengkritik kebijakan domestik Starmer terkait energi angin yang menurutnya justru membuat biaya hidup semakin mahal.
NATO Dianggap Sebagai ‘Jalan Satu Arah’
Sentimen negatif terhadap pakta pertahanan ini ternyata juga datang dari lingkaran dalam Gedung Putih. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, secara tegas menyebut NATO sebagai “jalan satu arah.” Rubio merasa kecewa karena beberapa anggota bahkan menolak memberikan akses bagi militer AS ke pangkalan-pangkalan penting.
Rubio menyatakan bahwa Washington mungkin akan melakukan evaluasi total atau “memeriksa kembali” status keanggotaan AS di NATO setelah konflik berakhir. Trump sendiri mengakui bahwa ia sangat setuju dengan sikap keras yang diambil oleh menterinya tersebut.
Hingga saat ini, masa depan aliansi pertahanan terbesar di dunia ini berada di ujung tanduk. Jika Amerika Serikat benar-benar angkat kaki, peta kekuatan keamanan global dipastikan akan berubah secara permanen.