Kami mampir salat duhur-asar di salah satu masjid di celah itu. Air tidak masalah di situ. Air wudu maupun untuk mandi. Berlimpah. Di depan masjid itu ada kubah-kubah. Ternyata itu makam Habib Ali bin Hasan Al Atas –kakek Habib Abdurrahman Alatas Tebet, Jakarta, yang wafat empat bulan lalu.
Saya juga diajak mampir rumah orang terkaya di Wadi Duan. Meski empat lantai tetap tidak tampak dari jalan raya utama. Pintu utamanya sangat kokoh. Di pintu itu ada dua alat ketok. Beda bunyi. Kalau yang atas yang diketokkan berarti tamunya laki-laki. Kalau alat ketok bawah yang diketokkan tamunya perempuan (lihat foto).
Banyak tokoh terkenal dari Wadi Doan ini. Pemilik bank Al Ahli di Saudi berasal dari sini. Konglomerat Saudi, Bin Laden, dari Wadi Doan. Pengusaha Saudi yang membangun vila di tebing celah tadi juga orang sini.
Saya iri kepada mereka yang punya waktu tiga hari tinggal di villa itu. Lalu saya buru-buru berucap masya-allah –agar rasa iri itu pergi.
Di Yaman saya melihat begitu banyak tulisan masya-allah. Di pintu pintu. Di pagar. Di kaca mobil.
Pemandangan yang sama pernah saya lihat di Pakistan. Waktu itu saya bertanya ke orang Pakistan: mengapa begitu banyak tulisan masya-allah. Tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan. Hanya kebiasaan saja, katanya.
Di Yaman saya menemukan jawabnya: mengucapkan masya-allah bisa menghilangkan rasa iri yang mulai berusaha muncul di hati. (Dahlan Iskan)