Catatan Dahlan Iskan

Iri Masyaallah

Bagikan
Saat saya di Yaman itu rupanya lagi musim kawin. Di semua negara Arab. Khususnya di Hadramaut, salah satu provinsi di Yaman. Yang kawin adalah kurma. Saya baru tahu itu ketika makan kambing bakar di Wadi Doan. Kambing bakar mathba --hanya ada di Wadi Doan. Itu sesuai dengan rekomendasi sahabat saya Kholid Bawazier, pengusaha besar dari Ampel Surabaya.
Bagikan

Oleh: Dahlan Iskan

Saat saya di Yaman itu rupanya lagi musim kawin. Di semua negara Arab. Khususnya di Hadramaut, salah satu provinsi di Yaman.

Yang kawin adalah kurma.

Saya baru tahu itu ketika makan kambing bakar di Wadi Doan. Kambing bakar mathba –hanya ada di Wadi Doan. Itu sesuai dengan rekomendasi sahabat saya Kholid Bawazier, pengusaha besar dari Ampel Surabaya.

Anda sudah tahu: nenek moyang Kholid adalah orang dari Wadi Doan. Ia sering ke sana. Pemilik pabrik sarung Cap Mangga dan berbagai pabrik Indomie di Timur Tengah itu tahu di mana mathba terenak.

Di sebelah saya tiga orang Yaman juga lagi makan mathba. Mereka membawa tas kresek plastik. Isinya seperti akar kering. Itu bukan akar. Itu bunga kurma yang sudah dikeringkan.

“Ini bunga jantan,” katanya menjawab rasa penasaran saya. “Akan kami taburkan di atas kurma betina,” ujarnya. “Mumpung masih Februari, puncak rasa kurma betina harus kawin,” tambahnya.

Saya baru tahu: ada kurma jantan dan betina. Satu pohon kurma jantan mampu membuahi 50 pohon kurma betina. Maka petani kurma berusaha menanam satu kurma jantan di tengah 50 pohon kurma betina.

Itu belum cukup meyakinkan. Petani masih perlu mengumpulkan bunga kurma jantan untuk ditaburkan ke bunga betina. Agar buah kurmanya lebat.

Setelah kami lebih akrab saya diminta mengambil satu untai. Untuk apa? “Anda kunyah,” katanya.

Saya ragu. Ia tahu saya ragu. Ia pun memberi contoh mengunyah satu tangkai. Saya ikuti caranya.

“Bagi orang Arab ini seperti viagra,” katanya. Saya men-jondil. Telanjur saya telan. Bagaimana kalau viagranya manjur.

Letak kota Wadi Doan ini unik. Tidak terlihat dari jalan raya poros utama Tarim-Mukalla. Di sepanjang perjalanan saya seperti tidak pernah melihat kota.

Ternyata kota-kotanya tersembunyi di bawah sana. Di dalam wadi. Wadinya sangat dalam. Jangankan rumah di situ, pepohonan di wadi pun tidak terlihat dari jalan raya.

Yang terlihat hanya permukaan pegunungan yang serba rata. Dari jalan raya itu ternyata banyak jalan kecil masuk ke wadi. Jalannya menurun. Berliku. Begitu sampai di kedalaman sekitar 100 meter baru terlihat banyak pohon. Banyak rumah.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Oei Al-Kaff

Oleh: Dahlan Iskan Foto di museum Mukalla ini tidak asing di literatur...

Catatan Dahlan Iskan

Mata Lasik

Oleh:Dahlan Iskan Di kursi belakang mobil Noah ini juga ada satu pemuda...

Catatan Dahlan Iskan

Amang Amat

Oleh: Dahlan Iskan Begitu banyak mobil di kota yang namanya belum pernah saya...

Catatan Dahlan Iskan

Lumbung Komisi

Oleh: Dahlan Iskan “Nisa masuk rumah sakit,” ujar wanita muda itu saat...