finnews.id – Situasi di Timur Tengah semakin memanas setelah Teheran menyatakan kesiapannya untuk menghadapi konflik berkepanjangan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa negaranya memiliki stamina militer untuk meladeni agresi Amerika Serikat dan Israel dalam waktu yang lama.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Al Jazeera di Teheran, Selasa, 31 Maret 2026, Araqchi menekankan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan waktu yang musuh mereka tentukan. Ia memastikan bahwa pasukan Iran mampu mempertahankan operasi militer dalam skala luas selama diperlukan.
“Iran siap untuk mempertahankan diri dari agresi AS-Israel untuk jangka waktu yang lama. Kami siap berperang setidaknya selama enam bulan ke depan sambil terus melanjutkan respons militer balasan,” tegas Abbas Araqchi.
Menepis Isu Negosiasi Rahasia dengan Amerika Serikat
Belakangan ini, beredar kabar di Amerika Serikat bahwa Iran mulai melunak dan menerima persyaratan tertentu dalam sebuah negosiasi. Namun, Araqchi membantah keras klaim tersebut. Menurutnya, publik perlu memahami perbedaan antara “pertukaran pesan” dan “negosiasi” dalam diplomasi internasional.
Araqchi menjelaskan bahwa sejauh ini tidak ada pertemuan formal atau pembicaraan langsung untuk mencapai kesepakatan baru.
“Negosiasi memiliki definisi khusus di mana dua negara duduk bersama untuk mencapai kesepakatan. Hal itu saat ini tidak ada antara Iran dan Amerika Serikat,” jelasnya.
Meski menolak sebutan negosiasi, ia mengakui bahwa komunikasi melalui perantara tetap berjalan. Pesan-pesan tersebut terkadang datang langsung dari pihak AS atau melalui teman-teman regional mereka.
Komunikasi Lewat Steve Witkoff Tetap Berjalan
Salah satu poin menarik dalam pernyataan Araqchi adalah pengakuan mengenai komunikasi berkelanjutan dengan pihak Amerika. Ia menyebut nama Steve Witkoff sebagai salah satu pihak yang masih aktif mengirimkan pesan kepadanya.
“Seperti di masa lalu, Steve Witkoff terus mengirim pesan kepada saya secara langsung. Namun, saya tegaskan kembali bahwa ini bukan negosiasi, melainkan bentuk komunikasi yang bisa terjadi dalam keadaan damai maupun perang,” tambahnya.
Bantahan Soal Perpecahan Internal Iran
Abbas Araqchi juga meluruskan isu mengenai adanya banyak faksi di Iran yang mencoba berkomunikasi secara diam-diam dengan Washington. Ia menjamin bahwa kebijakan luar negeri Iran berada di bawah satu komando yang terpadu.
Menurutnya, semua komunikasi, termasuk yang melibatkan dinas keamanan, tetap berada di bawah pengawasan Kementerian Luar Negeri dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
“Klaim bahwa ada banyak saluran atau faksi yang berkomunikasi dengan Washington itu sama sekali tidak benar. Semua pesan dilakukan melalui saluran resmi dengan manajemen terpadu,” kata Araqchi.
Terkait laporan media mengenai proposal 15 poin dari Amerika Serikat atau adanya lima syarat dari pihak Teheran, Araqchi menegaskan bahwa itu hanyalah spekulasi. Hingga saat ini, Iran belum memberikan tanggapan resmi terhadap proposal tersebut dan tetap fokus pada persiapan pertahanan nasional mereka.