Catatan Dahlan Iskan

Mata Lasik

Catatan Dahlan Iskan

Bagikan
Bagikan

Oleh:Dahlan Iskan

Di kursi belakang mobil Noah ini juga ada satu pemuda Indonesia. Yang dua lagi orang Yaman.

“Anda dari daerah mana?” tanya saya sambil menoleh ke belakang.

“Berau”, katanya.

“Berau sebelah mana?”

“Pernah ke Berau?”

“Sering.”

“Saya di Berau kota. Tanjung Redeb”.

“Sudah berapa tahun di Tarim?”

“Tiga tahun.”

“Masih berapa tahun lagi?”

“Belum tahu. Mungkin lima tahun lagi.”

“Orang tua kerja apa?”

“Tukang listrik.”

“Orang tua ingin Anda cepat pulang atau tidak?”

“Terserah saya.”

“Sekarang umur berapa?”

“26 tahun.”

Selama tiga tahun di Tarim ia belum pernah pulang ke Indonesia. Pun selama lima tahun ke depan. Kalau pun masih lima tahun lagi berarti umur 31 tahun baru pulang.

“Sepulang kelak ingin jadi apa?”

“Tidak tahu.”

Begitu pula penumpang asal Kartasura, Solo, yang di kursi depan. Mereka belum punya rencana jangka panjang. Yang jelas, kata yang di depan maupun yang di belakang, mereka nanti akan menjadi mubaligh. Dakwah. Misionaris. Menyebarkan Islam.

Begitulah umumnya sikap mahasiswa Indonesia yang ada di Tarim. Kelak ingin berdakwah.

“Anda ke Mukalla hanya untuk menemani Bung Salman?” tanya saya –ups tadi lupa menyebut nama yang duduk di depan itu. Namanya Salman. Rambutnya panjang. Topinya topi baseball. Pakai sorban melilit di leher. Tampilannya seperti seorang rocker.

“Bung Salman, Anda suka musik?”

“Tidak. Saya belum pernah mendengarkan musik,” katanya.

Yang duduk di belakang itu bernama Saiful. Ternyata ia ke Mukalla juga untuk operasi mata. Juga lasik. Rupanya sudah umum di kalangan mahasiswa Indonesia di Tarim melakukan operasi lasik di Mukalla.

“Berapa biaya lasik di Mukalla?”

“200 dolar dan 80 real Saudi,” ujar Salman. “Kira-kira sama dengan Rp 5 juta,” tambahnya.

Itu murah. Di Indonesia bisa tiga atau empat kali lipatnya. Untuk bisa bebas kacamata misalnya bisa sampai Rp 40 juta. Bandingkan dengan hanya lima juta di Mukalla.

“Wuih kok murah sekali ya?” reaksi Dini, dokter mata sahabat Disway di Surabaya.

Dia pun menebak mengapa begitu murah: “Bebas pajak ya?” tanyanya. Di Indonesia pun, kata Dini, kalau bebas pajak-pajak juga bisa murah.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Amang Amat

Oleh: Dahlan Iskan Begitu banyak mobil di kota yang namanya belum pernah saya...

Catatan Dahlan Iskan

Lumbung Komisi

Oleh: Dahlan Iskan “Nisa masuk rumah sakit,” ujar wanita muda itu saat...

Catatan Dahlan Iskan

Daftar Keinginan

Oleh: Dahlan Iskan Setelah 25 hari IsAm-Iran siapa yang menang? Setidaknya untuk sementara? Dua-duanya...

Catatan Dahlan Iskan

Mati Efisiensi

Oleh: Dahlan Iskan Justru saya yang mereka sebut sebagai petir. Yakni saat...