Astekita menjelaskan bahwa Rinjani 7.0 mencakup tujuh poin penguatan, mulai dari penggunaan alat pelacak (tracker) bagi pendaki, sistem komunikasi terpadu di seluruh kawasan, hingga hadirnya pusat komando (command center) yang siaga memantau pergerakan wisatawan secara real-time.
“Rinjani 7.0 adalah tujuh inovasi penguatan sistem keselamatan pendakian berbasis data dan teknologi,” jelas Astekita. Langkah ini diharapkan mampu memberikan rasa aman lebih bagi para pendaki yang harus menghadapi medan berat Gunung Rinjani.
Mesin Uang Pariwisata: Perputaran Ekonomi Tembus Rp182 Miliar!
Gunung Rinjani bukan hanya soal hobi, tapi juga soal ekonomi yang luar biasa masif. Sepanjang tahun 2025, kawasan ini terbukti menjadi lumbung devisa. Balai TNGR mencatat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai angka fantastis Rp25,92 miliar. Namun, yang lebih mengejutkan adalah total perputaran uang di ekosistem wisata Rinjani yang menyentuh Rp182,05 miliar!
Sepanjang tahun lalu, total pendaki tercatat sebanyak 80.214 orang. Menariknya, jumlah wisatawan mancanegara (43.236 orang) justru lebih banyak mendominasi dibandingkan wisatawan domestik (36.978 orang). Sementara untuk wisata non-pendakian, sebanyak 52.108 orang turut menikmati keindahan kaki Rinjani tanpa harus mendaki hingga puncak.
Patuhi Prosedur: Jangan Nekat Mendaki Ilegal!
Melihat kuota yang sudah penuh, Balai TNGR mewanti-wanti para pendaki untuk tetap disiplin. Jangan pernah mencoba melakukan pendakian ilegal atau menggunakan jasa yang tidak resmi. Keselamatan Anda jauh lebih berharga daripada sekadar foto di puncak.
Wisatawan diimbau untuk selalu mematuhi seluruh prosedur pendakian, menjaga kelestarian alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, dan tetap memantau ketersediaan tiket secara berkala melalui aplikasi E-Rinjani. Ingat, Rinjani adalah warisan dunia yang harus kita jaga bersama demi anak cucu kita nantinya. (*)