Namun, inovasi canggih ini tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Qwadru menyoroti bahwa biaya retribusi pendakian selama ini sudah cukup besar, namun pengelolaannya masih terpusat. Ia berharap ada skema baru agar sebagian dana tersebut bisa dialokasikan langsung untuk operasional penanganan limbah di lokasi.
Potensi Tambahan Retribusi: Siapkah Kantong Anda?
Muncul pertanyaan besar bagi para petualang: apakah ini artinya tarif mendaki akan naik? Geopark Rinjani saat ini tengah mengkaji skema pembiayaan bersama Bappeda Provinsi NTB. Ada kemungkinan penerapan retribusi tambahan bagi pendaki atau pemotongan sebagian jatah retribusi wisata pendakian yang ada saat ini.
“Biaya retribusi pendakian lumayan, tapi uangnya lari ke pemerintah pusat semua. Jadi, bagaimana supaya (retribusi pendakian) itu juga bisa ada alokasi untuk penanganan sampah,” tutur Qwadru. Selain soal biaya, penguatan regulasi berupa sanksi tegas dan pemeriksaan barang bawaan saat naik maupun turun akan semakin diperketat.
Data Miris: 30 Ton Sampah Cemari Rinjani Sepanjang 2025
Mengapa langkah drastis ini harus diambil sekarang? Data Balai TNGR tahun 2025 mencatat angka yang bikin geleng-geleng kepala. Total sampah pendakian mencapai 30,35 ton, ditambah sampah non-pendakian sebanyak 1,19 ton. Dengan jumlah kunjungan yang mencapai 80.214 orang pendaki dalam setahun, Rinjani berada dalam ancaman kerusakan ekosistem yang nyata jika tidak ada intervensi teknologi.
Rencana pembangunan shelter sampah dan penggunaan drone ini diharapkan menjadi titik balik bagi pariwisata NTB yang lebih hijau. Bagi Anda yang berencana muncak di tahun 2026, pastikan tetap membawa turun sampah Anda dan patuhi aturan pemeriksaan demi kelestarian alam Lombok. Jangan sampai keindahan Rinjani hanya tinggal cerita karena tumpukan plastik! (*)