Bagi para petani, kenaikan ini sangat memukul biaya produksi. Mesin pertanian di Inggris umumnya menggunakan “diesel merah”, sebutan untuk solar khusus industri dan pertanian yang dikenakan tarif pajak lebih rendah. Namun, meskipun pajaknya lebih murah, harga dasar yang melambung tinggi tetap membuat margin keuntungan petani tergerus tajam.
Respons Serikat Petani: Pantau Pasokan Pupuk dan Bahan Bakar
Menanggapi situasi yang mulai memanas ini, Serikat Petani Nasional (National Farmers Union) menyatakan bahwa mereka tengah melakukan pemantauan ketat terhadap kondisi di lapangan. Meskipun pembatasan volume sudah terjadi di beberapa titik, mereka mengeklaim bahwa masalah kelangkaan ini belum menyebar luas secara nasional.
Selain masalah bahan bakar, ketersediaan pupuk juga menjadi fokus pengawasan serikat tersebut. Keduanya merupakan komponen kunci yang saling berkaitan dalam ekosistem pertanian. Hingga saat ini, pihak serikat belum menerima laporan mengenai gangguan masif pada pasokan pupuk, namun mereka tetap mengimbau para petani untuk tetap waspada dan melakukan efisiensi penggunaan energi di lahan mereka.
Antisipasi Krisis Energi di Sektor Agrikultur
Para pengamat ekonomi menilai bahwa jika pembatasan ini tidak segera menemukan solusi, rantai pasok pangan Inggris akan mengalami gangguan serius. Petani membutuhkan kepastian pasokan diesel merah agar jadwal tanam dan panen tidak terganggu. Tanpa adanya intervensi atau stabilisasi harga, biaya energi yang tinggi ini pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga pangan di tingkat supermarket.
Kondisi di Skotlandia dan Essex menjadi alarm bagi wilayah lain untuk bersiap menghadapi skenario terburuk. Pengecer bahan bakar berdalih bahwa pembatasan dilakukan agar sebanyak mungkin petani mendapatkan jatah, meskipun dalam jumlah kecil. Namun, bagi operasional mesin pertanian modern, jatah 500 hingga 2.000 liter hanyalah solusi jangka pendek yang tidak berkelanjutan untuk jangka panjang. – Sputnik/ANTARA –