Catatan Dahlan Iskan

XCMG Mlilir

Catatan Dahlan Iskan

Bagikan
Bagikan

Berarti yang besar sekali memang super besar: 400 ton. Satu truk bisa angkut barang 400 ton. Anda lihat foto saya yang di dekat bannya: ban itu jauh lebih tinggi dari badan saya. Saya pun ingat ketika ke Freeport. Ke tambang tembaga dan emas di Papua itu. Truk-truknya sebesar itu.

 

Kendaraan kecil seperti yang saya tumpangi harus dipasangi semacam antena tinggi sekali. Di ujung antena itu dipasangi bendera kecil. Tujuannya: agar sopir truk super besar itu melihat ada mobil kecil di depannya. Tanpa tanda seperti antena itu mobil kecil tidak terlihat dari ruang kemudi. Lalu bisa tergilas seperti gajah bengkak menginjak banteng tua yang sudah ringkih.

Ada yang baru lagi. “XCMG sudah bisa memproduksi truk yang lebih besar dari yang super besar itu,” ujar manajer berbahasa Indonesia. Kapasitasnya 440 ton. “Baru XCMG yang bisa membuatnya. Berarti yang terbesar di dunia,” tambahnya.

Yang lebih baru lagi: ia memproduksi truk dan ekskavator warna hijau. Itu pertanda sudah tidak pakai BBM lagi. Sudah pakai listrik.

 

Saya pun ditawari naik ke ruang kemudi di truk terbaru itu. Sifatnya ditawari. Bukan diminta. Ruang kemudi itu sangat tinggi. Mereka tahu saya sudah berusia 75 tahun. Saya tersenyum kecil kepadanya: saya ingin naik.

Berarti saya harus naik dua tangga tinggi: tangga di samping truk dan tangga lanjutan di bagian lain truk itu. Lalu masuk ruang kemudi: luas sekali. Di sebelah kemudi bisa dihampar kasur ukuran king size. Saya pun ditawari duduk di atas kemudi. Tapi tidak ditawari menjalankannya.

Dari pabrik cangkul bisa berkembang seperti ini. Dari atas super truk itu saya ingat teman saya di Mlilir, kabupaten Ponorogo: Agus Imron. Ia memproduksi alat-alat pertanian. Waktu saya menjadi sesuatu, saya ke pabriknya. Saya curhat kepadanya: sulit cari alat pertanian produksi dalam negeri. Misalnya mesin panen padi. Lebih sulit lagi mesin tanam padi.

 

Akhirnya Agus Imron mampu membuatnya. Saya pun minta diuji coba di sawah. Saya berencana BUMN pupuk membelinya beberapa buah. Untuk diberikan ke kelompok tani. Sekalian mendukung pengembangan industri dalam negeri. Harapan saya begitu tinggi pada Agus: bisa jadi raksasa produsen alat pertanian.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Sang Maextro

  Empat-empatnya pakai nama belakang ”jie”. Dunia. Atau alam raya. Aito disebut...

Catatan Dahlan Iskan

Zhou BK

  Ternyata timba di rumah Zhou En Lai ini beda. Saya gagal....

Catatan Dahlan Iskan

Singapura Gagal

Ia pun sibuk bertanya ke sana-kemari. Dengan tertawa ia lantas lari ke...

Catatan Dahlan Iskan

Tamparan Mojtaba

Komunikasi seperti apa yang dijalankan. Adakah kembali ke zaman seperti perang gerilya...