Surat kabar tersebut menambahkan bahwa negosiasi diperkirakan akan berfokus pada penghentian pertempuran di Lebanon dan pelucutan senjata Hizbullah.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Lebanon, Sabtu lalu, mengumumkan bahwa jumlah korban serangan Israel terhadap Lebanon sejak 2 Maret lalu telah meningkat menjadi 826 gugur, termasuk 106 anak-anak dan 65 perempuan.
Lembaga penyiaran Israel mengatakan Hizbullah meluncurkan roket ke arah utara Israel untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata pada November 2024, tanpa ada pernyataan dari partai tersebut hingga saat ini.
Serangan itu merupakan “balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei” dan atas apa yang mereka sebut sebagai serangan Israel yang terus-menerus terhadap Lebanon.
Dikutip dari Aljazeera, Senin (2/3/2026), Tentara Israel mengkonfirmasi bunyi sirene peringatan di beberapa wilayah di utara Israel setelah peluncuran proyektil dari Lebanon.
Tentara Israel mengatakan Angkatan Udara telah mencegat sebuah rudal yang diluncurkan dari Lebanon dan rudal-rudal lainnya jatuh, namun tidak menyebabkan kerusakan atau korban jiwa.
Koresponden Aljazeera, mengutip media Israel, mengatakan bahwa tentara memantau peluncuran enam roket dari Lebanon.
Aksi Hizbullah tak menggubris seruan dari Perdana Menteri Nawaf Salam yang mengingatkan berbagai pihak untuk menahan diri dan tak menyeret Lebanon dalam konflik. Nawaf menulis melalui platform X:
“Menghadapi perkembangan berbahaya yang terjadi di kawasan ini, saya kembali menghimbau seluruh rakyat Lebanon untuk bersikap bijaksana dan patriotik, dengan mengutamakan kepentingan Lebanon dan rakyat Lebanon di atas segalanya,” sambil menambahkan: “Kami tidak akan menerima siapa pun yang membawa negara ini ke dalam petualangan yang mengancam keamanan dan persatuannya.”