Finnews.co.id – Di tengah eskalasi konflik antara Iran dengan aliansi Amerika Serikat-Israel, Teheran mulai menerapkan kebijakan “pilih kasih” yang sangat ketat terhadap setiap kapal tanker yang mencoba menembus jalur strategis tersebut.
Situasi mencapai titik didih menyusul pernyataan provokatif dari petinggi militer Iran. Penasihat senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Ebrahim Jabari, secara terang-terangan memberikan peringatan yang menggetarkan pasar finansial global.
Ia menegaskan bagi siapapun yang dianggap musuh dan nekat melanggar kedaulatan jalur tersebut, konsekuensinya adalah kehancuran total di tengah laut.
Dampak dari ancaman ini sangat instan. Berdasarkan data per Selasa, 17 Maret 2026, harga minyak mentah dunia meroket tajam:
- Minyak Mentah Brent: Melonjak hingga USD105,70 per barel, naik lebih dari 40% dibandingkan harga sebelum konflik.
- Fluktuasi Pasar: Ketidakpastian ini memicu kepanikan ekonomi di negara-negara importir energi yang kini berebut mencari jalur alternatif.
“Selat tersebut telah ditutup. Jika ada kapal yang mencoba menyeberanginya tanpa koordinasi, IRGC dan angkatan laut tidak akan ragu untuk membakar kapal-kapal tersebut,” tegas Ebrahim Jabari, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Daftar Negara “Anak Emas” yang Diizinkan Melintas
Meskipun “gembok” Selat Hormuz terlihat rapat bagi Barat, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan pihaknya tetap membuka ruang dialog bagi negara-negara sahabat.
Beberapa negara dilaporkan telah berhasil mendapatkan jaminan keamanan dan melintasi jalur tersebut dengan selamat:
- India: Dua kapal tanker pengangkut gas minyak cair (LPG) berbendera India dilaporkan sukses melintas tanpa gangguan pagi ini.
- Pakistan: Tanker berbendera Pakistan menjadi salah satu yang pertama diizinkan keluar dari Teluk melalui koordinasi ketat.
- Turki: Dari 15 kapal milik pengusaha Turki, setidaknya satu kapal sudah mendapatkan izin resmi setelah melewati pelabuhan Iran.
- Indonesia: Dua kapal berbendera Indonesia diizinkan melewati selat Hormuz.
Berebut Jalur Aman di Tengah Krisis