Saatitupesawat militer yang membawanya ke arah Rusia jatuh. Pasangan Perdana Menteri Zhou En Lai dan Wakil Perdana Menteri Deng Xiaoping pun kembali merencanakan perbaikan ekonomi. Tapi tidak bisa cepat. Kelompok penjilat Mao masih sangat kuat. Bisa-bisa keduanya dianggap perongrongketua Mao. Zhou sendiri kian tidak sehat. Ia terkena kanker empedu. Sebenarnya sakitnya itu masih bisa diatasi. Bisa dioperasi. Tapi setiap dokter yang akan mengoperasi pejabat tinggi harus minta izin Mao Zedong.
Administrasinya harus melewati lingkaran terdekat sang ketua. Izin itu tidak diberikan. Mungkin Mao sendiri yang tidak mengizinkan. Mungkin juga permintaan izin tidak sampai dibaca Mao.
Setelah akhirnya kencing Zhou campur darah izin operasi diberikan. Terlambat. Zhou En Lai meninggal dunia.
Harusnya negara berduka: pendiri republik meninggal dunia. Tapi tidak. Justru Mao mengeluarkan larangan acara apa pun yang menunjukkan simpatikepada Zhou. Lama-lama rakyat tahu Zhou En Lai sudah meninggal dunia.
Beberapa bulan kemudian, ketika datang haricingbing, puluhan ribu rakyat berkumpul di Tian An Men. Mereka menyatakan duka pada Zou En Lai. Orang Tionghoa di mana pun melakukan ziarah kubur di haricingbing. Mereka ziarah kubur Zhou di lapangan Tian An Men. Tidak hanya rumah Zhou yang jadi museum. Di kota Huai An juga dibangun patung raksasa Zhou. Di belakang patung itu dibangun museum besar Zhou En Lai.
Perjalanan Zhou dipaparkan di meseum itu. Termasuk saat hadir di KAA Bandung. Saat saya tiba di bagian KAA Bandung saya melihat beberapa foto Zhou di KAA itu. Terlihat pula tokoh-tokoh dunia. Tapi tidak terlihat sama sekali Bung Karno.
Maka saya usul di dalam hati. Bagaimana kalau Bu Mega menugaskan staf mencari foto Zhou bersama Bung Karno, lalu mengirimkannya ke museum di Huai An itu. Tanpa Bung Karno tentu meseum itu seperti ada yang kurang. Apalagi ada kemiripan nasib di akhir hayat Zhou dan BK. Baik sakitnya maupun dukanya.(Dahlan Iskan)