Catatan Dahlan Iskan

Zhou BK

Catatan Dahlan Iskan

Bagikan
Bagikan

Oleh: Dahlan Iskan

“Hampir semua orang Indonesia tahu nama Zhou En Lai,” kata saya melebih-lebihkan nama besar mantan perdana menteri Tiongkok itu.

Orang di kota ini senang mendengarnya: Kota Huai An. Itu satu kabupaten kecil di bagian utara provinsi Jiangshu yang besar. Jaraknya tiga jam naik kereta cepat dari Gedung Celana Panjang di Suzhou (lihat disway kemarin).

 

Di situlah Zhou En Lai lahir. Kelak di tahun 1955 ia ke Bandung. Ia menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika (KAA). Indonesia memang pendiri Gerakan Negara-Negara Nonblok: tidak memihak Amerika dan sekutu Baratnya maupun Uni Soviet dan sekutu sosialisnya.

 

Waktu ke Bandung itu Zhou En Lai ditemani seorang tokoh yang punya anak yang masih kecil. Anak kecil itu kelak di tahun 2025 menjabat Presiden Tiongkok untuk periode ketiga kalinya.

 

Zhou En Lai sangat terlambat kawin. Tidak punya anak kandung. Karir politiknya melejit. Kerjanya keras. Kelak di awal perkawinannya ia mengangkat dua anak: perempuan dan laki-laki.

 

Mereka tidak sampai berumah tangga. Kelak, setelah agak dewasa yang perempuan tewas oleh kekerasan politik –setelah jadi korban pemerkosaan lawan politik.

 

Sedangkanyang laki-laki tidak bisa selamat dari penyiksaan di saat meletus revolusi kebudayaan antara tahun 1966-1974.

 

Zhou En Lai sendiri harusnya juga terkena revolusi. Hampir terkena. Sudah mulai disasar olehbuzzeraliran keras di Partai Komunis Tiongkok. Ia hampir jadi korban rebutan posisi di lingkungan kekuasaan mutlak Mao Zedong.

 

Ia dianggap lembek dalam menghadapi kelompok pro kapitalisme. Dari jenis rumah tempat ia dilahirkan memang terlihat Zhou datang dari keluarga kaya.

 

Pagi itu saya ke rumah Zhou. Kini rumah itu jadi meseum. Di tengah kota. Besar sekali. Banyak kamar. Ada sumur di halaman belakang. Saya diminta mencoba menimba air dengan cara zaman itu: timbanya diikatkan di ujung tali.

 

“Saya pasti bisa,” kata saya. “Saya pernah melakukannya waktu kecil di desa”.

 

Saya pun mulai memegang timba. Memasukkannya ke mulut sumur. Tangan kanan memegang ujung tali. Timba sudah mencapai permukaan air –kedalamannya tidak sampai tiga meter. Saya pun mengibaskan tali. Timbanya terlihat terjungkit. Perasaan saya jungkitan timba itu seperti menciduk air. Sukses. Ternyata tidak. Timbanya tetap kosong. Lalu saya diamkan timba itu mengapung di atas permukaan air. Nanti akan miring sendiri lalu tenggelam penuh air. Begitulah cara lama yang saya lakukan.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Singapura Gagal

Oleh: Dahlan Iskan Setiap kali ke Suzhou tidak pernah lagi bermalam di...

Catatan Dahlan Iskan

Tamparan Mojtaba

Oleh: Dahlan Iskan Yang terlibat perang IsAm-Iran, yang hancur perasaan kita semua....

Catatan Dahlan Iskan

Fir’aun Baik

Oleh: Dahlan Iskan Fir’aun yang ke 18 lah yang mumminya paling banyak...

Catatan Dahlan Iskan

Tol Tentara

Oleh: Dahlan Iskan Yang paling saya kagumi selama di Mesir adalah jalan...