Catatan Dahlan Iskan

Kelas Delcy

Catatan Dahlan Iskan

Bagikan
Presiden Donald Trump_
Bagikan

Oleh: Dahlan Iskan

Perang Iran sudah mendekati akhir. Itulah perasaan Presiden Donald Trump. Persenjataan Iran sudah dilumpuhkan justru ketika masih di gudangnya. Basis senjata di berbagai tempat dan kota diihancurkan –lewat beribu kali serangan udara jarak jauh.

Kini Trump mulai beralih memikirkan masa depan Iran. Ia tidak lagi ngotot: pemerintah Iran harus digulingkan. Kini Trump sudah bisa menerima kenyataan: Iran harus dipimpin golongan ayatollah. Hanya saja ia minta jangan ayatollah yang memusuhi Amerika. Harus ayatollah yang pro Amerika.

“Saya harus terlibat dalam penentuan pemimpin tertinggi Iran,” katanya di sosmed miliknya sendiri. Ia tidak setuju Mojtaba Hassan Khamenei yang terpilih. Putra kedua Ayatollah Khamenei yang tewas di serangan hari pertama IsAm itu dinilai tidak beda dengan ayahnya. Garis keras. Apalagi istri dan anaknya ikut tewas di serangan udara ke kediaman Khamenei.

Sebenarnya di Iran sendiri belum ada keputusan siapa kandidat pengganti Khamenei. Di sana ada mekanisme tersendiri. Mojtaba masih berumur 56 tahun. Masih ada Ayatollah AlirezaArafi yang lebih senior. Dan masih banyak lagi.

Dua hari lalu IsAm mengebom satu bangunan di Teheran. Dikira di situ sedang berkumpul para ayatollah: rapat penggantian pemimpin tertinggi. Dikira sekali bom bisa menewaskan satu lapisan elite ayatollah di Iran. Kali ini info intelijen IsAm iti salah: yang dibom itu bangunan kosong. Pun Mojtaba tidak di situ.

Ibarat tinju, Trump menilai Mojtaba adalah petinju kelas ringan. Yang dicari Trump adalah ayatollah “kelas Delcy”.

Anda sudah tahu siapa Delcy: boneka dari Venezuela. Namanyi Delcy Rodriguez. Amerika mengangkatnyi menjadi presiden sementara Venezuela –setelah Trump menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Delcy adalah wanita yang melejit. Latar belakang pendidikannyi hukum. Setelah jadi politikus, dia diangkat Presiden Hugo Chavez jadi menteri kominfo. Lalu diangkat Maduro jadi menteri keuangan. Sebentar kemudian jadi menteri ekonomi. Tidak lama pula jadi wakil presiden. Lalu jadi presiden sementara.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Serangan Fajar

Oleh:Dahlan Iskan Perlunya minoritas diperlakukan secara fair terbukti di dua kejadian: perang...

Catatan Dahlan Iskan

Bela Khamenei

Oleh: Dahlan Iskan Perlukah Presiden Indonesia mengucapkan duka cita atas meninggalnya pemimpin...

Catatan Dahlan Iskan

Tujuan IsAm

Oleh: Dahlan Iskan Jadi, apa sebenarnya tujuan IsAm menyerang Iran? Itulah yang...

Catatan Dahlan Iskan

Krisis Bahlil

Oleh: Dahlan Iskan Perangnya di Iran krisisnya bisa di Indonesia: krisis batu...