Catatan Dahlan Iskan

Imlek Banteng

catatan dahlan iskan

Bagikan
Bagikan

Sudah begitu lama saya tidak masuk lapangan Banteng. Sesekali hanya melewatinya. Yakni kalau dari Pasar Baru. Atau kalau ke Hotel Borobudur. Tapi tidak tahu lagi seperti apa dalamnya.

Ingin sekali melihat hebatnya pedalaman Lapangan Banteng sekarang –sampai acara Imlek Nasional pun diadakan di situ. Acaranya satu minggu. Puncaknya nanti malam: dihadiri Presiden Prabowo Subianto.

Tentu saya punya kenangan khusus di Lapangan Banteng. Tahun 1975. Ketika Anda dan Anda belum lahir. Lapangan itu masih kumuh. Masih jadi pusat terminal bus kota Jakarta.

“Datang saja ke terminal Lapangan Banteng”: ke mana pun Anda ingin ke pelosok Jakarta ada bus jurusan ke sana. Yang dominan: bus Mayasari Bhakti. Selebihnya saya lupa. Tidak ada yang ber-AC. Kernetnya teriak-teriak sambil berdiri satu kaki di pintu bus: “Bios! Bios! Bios!” kaki satunya berayun-ayun di luar bus.

Saya baru sekali itu dengar kata ”Bios”. Diteriakkan terus oleh kernet. Keras sekali. Saya tidak tahu artinya. Tapi terdengar menggoda.

Saya loncat ke dalamnya. Saya berniat dalam satu hari itu akan naik bus kota ke semua jurusannya. Bus jurusan Bios itu pasti akan balik lagi ke terminal Lapangan Banteng. Lalu pindah bus jurusan lain. Balik lagi ke Lapangan Banteng. Naik jurusan lain lagi. Balik lagi. Makan di terminal. Minum di terminal. Salat di terminal. Ke toilet di terminal.

Makannya nasi bungkus. Minumnya air dalam kantong plastik yang diikat karet gelang. Status saya masih wartawan magang di Majalah TEMPO. Yakni saat ikut pendidikan jurnalistik yang diadakan LP3ES yang dipimpin Nono Anwar Makarim.

Sebagai wartawan dari Samarinda saya harus segera memahami jalan-jalan Jakarta. Dalam tempo sesingkat-singkatnya. Agar kapan pun dapat tugas liputan sudah tahu arahnya ke mana: harus naik bus kota jurusan itu. Jadilah saya wartawan yang cari berita naik bus kota! Lalu jalan kaki mencari lokasi liputan.

Kalau ada slogan ”sekejam-kejam ibu tiri masih lebih kejam ibu kota”, maka pusat kekejaman ibu kota itu ada di Lapangan Banteng. Saya lihat kehidupan sangat keras di situ. Copet, tipu, bentak, tinju, teriak, tangis, lenguh, semua ada di sana.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Petir Ngambek

Saya memuji perubahan BUMN Karya menjadi PT Agrinas Pangan Nusantara. Harus ada...

Catatan Dahlan Iskan

Petir India

Joao kenal Presiden Prabowo. Kenal dekat. Masih tetap berhubungan pun setelah Prabowo...

Catatan Dahlan Iskan

WNI WNI

  Dia dapat penempatan di SD Inpres di pedalaman Kaltim. Di desa...

Catatan Dahlan Iskan

Kolegium MK

Prinsip itulah yang mendorong Prof Johansyah menggugat isi UU Kesehatan yang disahkan...