Catatan Dahlan Iskan

Imlek Banteng

catatan dahlan iskan

Bagikan
Bagikan

Oleh: Dahlan Iskan

SAYA buka seluruh kancing baju. Saya bergegas ikut duduk di atas rumput –sebelum wanita itu berdiri untuk menyalami kedatangan saya. Beberapa orang di sebelahnyi sudah terlihat mulai berdiri. Saya tidak mau wanita itu bersusah berdiri. Lebih baik saya segera ikut duduk di rumput –sama-sama lesehan di situ. Toh rumputnya tebal. Rata. Bersih. Enak juga duduk di atasnya. Menghadap panggung. Ada pertunjukan di panggung malam itu –lagi menampilkan band mahasiswa ITB.

Wanita itu muda. Bukan wanita biasa. Dia wakil menteri. Tapi tidak seperti pejabat pada umumnya. Dia hanya pakai kaus. Celana jeans. Khas gaya anak muda masa kini. Dia wakil menteri ekonomi kreatif: Irene Umar. Buddha. Vegetarian. Summa Cum Laude. Pernah di banyak negara sebagai eksekutif Standard Chartered Bank.

Saya duduk agak jauh dari Irene, satu-satunya anggota kabinet yang beragama Buddha itu. Dia adalah ketua panitia Imlek Nasional di Lapangan Banteng ini.

Saya sendiri datang terlambat. Saya harus lebih dulu hadir di acara Imlek yang lain: di studio pusat Metro TV. Di acara inilah teman-teman tokoh Tionghoa bertanya: apakah saya sudah ke Lapangan Banteng. Ketika saya berterus terang ”belum” mereka menyesalkan.

“Harus ke sana,” kata Gandi Sulistiyanto Suherman, petinggi Sinar Mas yang juga mantan duta besar RI untuk Korea Selatan itu. “Harus,” ujar Wani Sabu, vice president Bank BCA dan GM Djarum yang duduk di sebelah saya. Tomy Suryopratomo, komisaris Metro TV yang baru mengakhiri tugas sebagai dubes di Singapura juga hadir di situ.

Aneh, pikir saya. Acara Imlek Nasional kok di Lapangan Banteng. Biasanya kan di gedung berbintang dan ber-AC. Aneh. Saya pun ingin ke sana. Malam itu juga.

“Dari sini kita langsung ke Banteng,” bisik Helga Abraham. “Saya panitia di sana,” tambahnyi. Helga saya tahu: dia panitia di mana-mana. Muda. Cantik. Cekatan. Biasa acaranya sukses. Paguyuban Sosial Marga Tionghoa (PSMTI) juga sering menyerahkan acara besar ke Helga.

Maka begitu Dirut Metro TV Arief Suditomo dan pejabat Kedubes Tiongkok di Jakarta selesai berpidato, saya menengok ke Helga. Mengedipkan mata. Yang dikedipi merasa waktunya tiba. Dia bangkit dari kursi. Saya menunggu lampu di studio diredupkan dulu. Akan ada acara tari setelah itu.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Petir Ngambek

Oleh: Dahlan Iskan Siapa yang bilang ngambek itu tidak penting? Ngambek itu...

Catatan Dahlan Iskan

Petir India

Oleh: Dahlan Iskan Hujan memang masih turun dari langit, tapi petirnya datang...

Catatan Dahlan Iskan

WNI WNI

Oleh: Dahlan Iskan Saya yakin Dwi Sasetyaningtyas tetap cinta Indonesia –setidaknya dalam...

Catatan Dahlan Iskan

Kolegium MK

Oleh: Dahlan Iskan “Saya tidak mempersoalkan menteri kesehatan. Yang saya lawan UU-nya,”...