“Mengelola toko furnitur di Singapura itu mahal karena biaya sewa yang tinggi, terutama karena kami membutuhkan lebih banyak ruang untuk memajang barang-barang besar.”
Joshua Koh, presiden Dewan Industri Furnitur Singapura, mengatakan perkembangan ini menyoroti kebutuhan bagi para pelaku industri untuk terus beradaptasi dengan pola konsumsi dan model produksi yang terus berkembang, serta memanfaatkan teknologi di bidang-bidang seperti desain, keterlibatan pelanggan, dan manajemen rantai pasokan.
Namun, ia juga memperingatkan bahwa pembelian langsung dari luar negeri dapat membawa risiko, terutama terkait pembayaran di muka, upaya hukum jika terjadi masalah, dan ketidakpastian mengenai apakah bahan dan proses produksi memenuhi standar keselamatan dan keberlanjutan yang diharapkan.
Menyelesaikan masalah lintas batas juga dapat menjadi tantangan operasional, terutama ketika produk perlu dikembalikan.
“Meskipun media sosial telah meningkatkan visibilitas pengadaan furnitur langsung dari pabrik di luar negeri, pengecer lokal di Singapura terus memainkan peran penting yang melampaui sekadar harga,” ujarnya.