Home News DPR Ingatkan Pemerintah: Sertifikasi Halal Produk Impor AS Jangan Jadi ‘Barter’ Politik Dagang
News

DPR Ingatkan Pemerintah: Sertifikasi Halal Produk Impor AS Jangan Jadi ‘Barter’ Politik Dagang

Bagikan
Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donal Trump (Medsos Setpres)
Bagikan

finnews.id – Komisi VIII DPR RI memberikan peringatan keras kepada Pemerintah Indonesia terkait munculnya isu pelonggaran kewajiban sertifikasi halal bagi produk impor asal Amerika Serikat (AS).

DPR menegaskan bahwa standar halal merupakan kedaulatan regulasi yang tidak boleh dikorbankan demi kesepakatan dagang.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, menyatakan bahwa sertifikasi halal adalah instrumen strategis untuk melindungi industri perunggasan dalam negeri dan menjamin hak konsumen.

“Sertifikasi halal bukan hambatan perdagangan. Ia adalah standar mutu, jaminan kepastian hukum, dan sekaligus kekuatan ekonomi nasional,” tegas Singgih dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (22/2/2026).

Soroti Klausul Kesepakatan Tarif Resiprokal

Kritik ini mencuat menyusul beredarnya informasi mengenai klausul Kesepakatan Tarif Resiprokal antara RI dan Amerika Serikat. Klausul tersebut diduga memuat poin pembebasan kewajiban sertifikasi dan pelabelan halal bagi sejumlah komoditas asal AS, meliputi:

  • Produk pangan dan daging olahan.
  • Sektor kesehatan dan farmasi.
  • Produk kosmetik hingga manufaktur.

Singgih mengingatkan pemerintah bahwa Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (UU JPH). Regulasi ini merupakan bentuk perlindungan bagi mayoritas penduduk Indonesia yang 87 persennya adalah muslim.

Ancaman Terhadap Industri Perunggasan Lokal

DPR menyoroti dampak paling fatal jika relaksasi ini diterapkan, yakni potensi kehancuran sektor perunggasan nasional. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi daging ayam ras nasional mencapai 4,25 hingga 4,28 juta ton per tahun.

Jika produk impor masuk tanpa pengawasan halal yang setara dengan standar domestik, Singgih mengkhawatirkan tiga hal utama:

  • Ketimpangan Regulasi: Produk asing mendapat kemudahan, sementara produsen lokal terikat aturan ketat.
  • Tekanan Harga: Membanjirnya produk impor dapat memukul harga di tingkat peternak rakyat dan UMKM.
  • Krisis Kepercayaan: Penurunan standar dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap sistem halal nasional.

Potensi Ekonomi Industri Halal Global

Lebih lanjut, Komisi VIII mengingatkan bahwa industri halal adalah ceruk pasar raksasa. Nilai belanja produk halal dunia diproyeksikan menembus 3,1 triliun dolar AS pada periode 2024–2025.

Bagikan
Written by
Gatot Wahyu

Gatot Wahyu adalah jurnalis senior yang telah berkecimpung di dunia pers sejak tahun 1990-an. Bergabung dengan Jaringan FIN CORP sejak 2014, ia memiliki spesialisasi dan wawasan mendalam dalam peliputan berita bidang politik, hukum, dan kriminal.

Artikel Terkait
News

Istri Anggota DPRD Sulsel Tewas dalam Kecelakaan di Tol Makassar, Ini Dugaan Penyebabnya

finnews.id – Istri Anggota DPRD Sulsel Tewas dalam Kecelakaan di Tol Makassar,...

News

Sikap Tegas LPDP soal Kasus Alumnus Tak Penuhi KKBN

finnews.id – LPDP Bakal Panggil Suami Alumnus yang Pamer Paspor Inggris Sang...

News

Ramadhan 2026, Cabai Pasar Induk Kramat Jati Turun Drastis

finnews.id – Ramadhan 2026: Cabai Jawa Barat Guyur Pasar Induk Kramat Jati,...

News

Mudik Lebaran 2026: Catat Pembagian Pelabuhan di Banten dan Jadwal Rekayasa Lalin Terbaru!

finnews.id – Menghadapi lonjakan pemudik menuju Sumatera, Polda Banten resmi merilis skema...