finnews.id – Kepala energi atom Iran, Mohammad Eslami, menegaskan, tidak ada negara yang dapat mencabut hak Republik Islam Iran untuk melakukan pengayaan nuklir.
Pernyataan ini dikeluarkan Eslami, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengisyaratkan tindakan militer terhadap Iran, menyusul pembicaraan di Jenewa.
“Dasar industri nuklir adalah pengayaan. Apa pun yang ingin Anda lakukan dalam proses nuklir, Anda membutuhkan bahan bakar nuklir,” kata Eslami, menurut video yang diterbitkan oleh harian Etemad, Kamis, 19 Februari 2026.
“Program nuklir Iran berjalan sesuai dengan aturan Badan Energi Atom Internasional, dan tidak ada negara yang dapat mencabut hak Iran untuk mendapatkan manfaat dari teknologi ini secara damai,” lanjutnya.
Komentar tersebut menyusul putaran kedua pembicaraan yang dimediasi Oman antara Teheran dan Washington di Jenewa pada hari Selasa.
Kedua pihak yang bermusuhan tersebut telah mengadakan putaran diskusi awal pada 6 Februari di Oman, yang pertama sejak pembicaraan sebelumnya gagal selama perang Iran-Israel selama 12 hari pada bulan Juni.
Trump Isyaratkan Akan Serang Iran
Pada hari Rabu, Trump kembali mengisyaratkan bahwa AS mungkin akan menyerang Iran dalam sebuah unggahan di situs Truth Social miliknya.
Ia memperingatkan Inggris agar tidak melepaskan kedaulatan atas Kepulauan Chagos di Samudra Hindia, dengan mengatakan bahwa pangkalan udara Diego Garcia di kepulauan tersebut mungkin dibutuhkan jika Iran tidak menyetujui kesepakatan.
“Untuk memberantas potensi serangan oleh rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya,” tegas Trump.
Selama ini, negara-negara Barat menuduh Republik Islam Iran berupaya memperoleh senjata nuklir.
Namun, Teheran membantah memiliki ambisi militer semacam itu tetapi bersikeras pada haknya atas teknologi ini untuk tujuan sipil.