finnews.id – Sebuah rekaman video yang diunggah oleh akun milik Natalia Sitepu mendadak viral dan jadi sorotan.
Tak hanya itu, peristiwa yang terjadi dan diabadikan dalam rekaman video tersebut menuai beragam reaksi warganet.
Peristiwa yang diduga terjadi di Sumatera Utara tersebut, menampilkan sosok pedagang daging babi berdebat keras dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang disebut melarang aktivitas jualannya.
Tulisan dalam video itu pun langsung menyita perhatian.
“Kenapa cuma daging babi yang kalian takuti saudara? Apa salah babi?”
Kalimat tersebut memicu diskusi panjang di media sosial terkait toleransi, aturan daerah, hingga hak pedagang kecil yang mencari nafkah.
Dalam video , si pedagang terdengar mencoba menjelaskan posisinya dengan nada memohon.
“Kami tidak melanggar Undang-undang. Kami tidak jualan narkoba. tapi kalau Bapak minta daging babinya untuk tidak kami gantung, tidak masalah pak, kami lakukan. Kami hanya mau kasih makan anak istri kami,” ujar si pedagang.
Pernyataan yang dilontarkan oleh si pedagang itu langsung menyentuh emosi banyak warganet.
Bahkan sempat terpecah menjadi dua pihak.
Sebagian merasa iba, karena si pedagang tersebut hanya berusahamenghidupi keluarganya.
Sementara di lain pihak menilai petugas kemungkinan sedang menjalankan aturan ketertiban yang berlaku.
Hingga kini masih belum ada keterangan resmi yang menjelaskan secara rinci kronologi kejadian maupun aturan apa yang menjadi dasar dari tindakan penertiban tersebut.
Namun, nasi sudah menjadi bubur yang mana video itu sudah terlanjur menyebar luas dan memicu perdebatan publik.
Dari peristiwa ini kita belajar mengingat kembali pentingnya komunikasi yang humanis antara aparat dan masyarakat.
Terutama dalam situasi sensitif menjelang hari besar keagamaan.
Dari sisi lain kita juga diingatkan kembali, terutama dari kata-kata si pedagang,
“Kami hanya mau kasih makan anak istri.”
kata-kata ini membuat banyak orang tersentuh bahwa di balik polemik, ada keluarga yang bergantung pada setiap rupiah hasil dagangan.
Viralnya video tersebut pun memunculkan satu pertanyaan besar di tengah masyarakat.
Bagaimana menemukan titik tengah antara penegakan aturan dan empati terhadap rakyat kecil.