finnews.id – Situasi di kompleks Masjid Al-Aqsa semakin memanas menjelang bulan suci Ramadan. Polisi Israel dilaporkan menahan Sheikh Muhammad Ali Abbasi tepat di dalam area kompleks suci tersebut.
Tak hanya ditahan, otoritas setempat juga mengeluarkan perintah pengusiran yang melarang sang Sheikh menginjakkan kaki di lokasi tersebut selama satu minggu ke depan, sebagaimana dikonfirmasi oleh Pemerintah Yerusalem dan pejabat Palestina.
Larangan keras ini muncul hanya beberapa hari sebelum ratusan ribu warga Palestina secara tradisional datang memadati Masjid Al-Aqsa untuk menunaikan ibadah di bulan Ramadan.
Namun, hambatan tidak hanya menyasar individu. Otoritas pendudukan Israel saat ini tengah mencegah pengelola Wakaf Islam untuk melakukan berbagai persiapan logistik yang krusial.
Persiapan yang dihambat tersebut mencakup pemasangan struktur peneduh bagi jamaah, penyediaan pos medis, hingga pengaturan organisasi demi kelancaran arus jamaah.
Berdasarkan laporan sumber Palestina, tindakan represif ini merupakan bagian dari tren yang meningkat, di mana telah tercatat lebih dari 250 perintah pengusiran dari Al-Aqsa sejak awal tahun.
Selain itu, sekitar 25 karyawan Waqf telah dipecat dan beberapa lainnya ditangkap oleh pihak keamanan.
Pembatasan Ketat dan Ancaman Penggerebekan Pemukim
Lebih lanjut, otoritas Israel diperkirakan akan memberlakukan pembatasan demografis yang sangat ketat untuk akses masuk.
Kabar yang beredar menyebutkan hanya warga Palestina yang lebih tua yang akan diizinkan masuk dengan akses terbatas, sementara sebagian besar penduduk Tepi Barat akan dilarang mendekat.
Di sisi lain, kelompok-kelompok pemukim justru mengumumkan rencana untuk melakukan penggerebekan pagi yang lebih lama ke dalam kompleks di bawah perlindungan polisi.
Mereka secara terbuka menyerukan perluasan akses bagi umat Yahudi selama bulan Ramadan, sebuah langkah yang memperdalam kekhawatiran akan terjadinya konfrontasi hebat di kawasan Kota Tua Yerusalem.
Hanya berselang beberapa jam setelah insiden di Yerusalem, kekerasan pecah di wilayah Tepi Barat. Pasukan Israel menembak mati seorang pemuda Palestina berusia 18 tahun di dekat tembok pemisah—yang dikenal luas oleh warga Palestina sebagai Tembok Apartheid—di sebelah barat Qalqilya.