Oleh: Dahlan Iskan
“Bah…” katanyi manja. “Bah…” katanyi lagi. Dia memang biasa memanggil mertua laki-lakinyi dengan panggilan ”Bah” –singkatan bahasa Arab ”Abah”, ayah.
“Saya jadi korban KDRT,” lanjut Ivo, sang menantu, sambil ucek-ucek mata.
Awalnya, sang mertua kaget. Anak Pak Iskan itu tidak pernah mendengar suami Ivo berbuat kasar kepada sang istri.
Setelah manjanyi reda sang mertua baru tahu: KDRT itu benar-benar terjadi. Dilakukannya di jalan raya. Sepanjang 1.500 km.
“Semua ini gara-gara anak Abah,” katanyi lagi.
Sang suami, baru genap satu bulan menjalani operasi lutut –gara-gara di masa nan lalu. Saat main bola. Ia pemain penyerang klub sepak bola Askring: asal keringetan, asal berkeringat.
Meski belum lama operasi lutut, cucu Pak Iskan itu sudah mau ikut gowes sejauh 600 km. Ia merasa sudah kuat.
Sejak tiga minggu setelah operasi ia sudah latihan naik sepeda. Setiap hari. Awalnya 20 km. Akhirnya bisa 200 km. Lalu ia ingin ikut yang 600 km.
Itu ringan baginya. Menurut perasaannya. Ia pernah naik sepeda ribuan kilo. Beberapa kali. Di dalam negeri. Di luar negeri. Di Asia. Di Eropa. Di Amerika. Di Rinca, NTT.
Ivo, sang istri keberatan. Dia beropini: belum waktunya ikut bersepeda 600 km. Takut over used. Harus sabar menanti.
Sang suami ngotot. Mereka berdebat keras. Tidak ada titik temu. Akhirnya sang istri mengalah –tumben ada istri bisa mengalah.
Katanyi: “Saya akan ikut yang 1.500 km asal kamu tidak ikut yang 600 km itu,” ujar Ivo. Maksudnyi: istri akan mewakili penderitaan suami.
Deal. Sang suami batal ikut 600 km. Ivo yang ikut 1.500 km. Berarti tiap hari harus latihan ratusan kilometer.
Perjalanan KDRT itu dimulai Senin, 2 Februari 2026, lalu. Ivo merasa sangat tersiksa sepanjang perjalanan. Selama enam hari. Meski event itu diikuti 50 peserta, praktiknya mirip sendirian. Tiap orang mikir diri sendiri-sendiri.
“Ini benar-benar KDRT,” kata Ivo.
Beberapa suami-istri punya perilaku mirip itu. Mereka punya ”persatuan korban KDRT” sejenis.