finnews.id – Yasika Aulia Ramadhani: Sosok Muda di Balik Pengelolaan 41 Dapur MBG Sulawesi Selatan
Berkaitan dengan Dapur MBG di Indonesia, terdapat sosok muda yang banyak diperbincangkan terkait pengelolaan Dapur MBG, yaitu Yasika Aulia Ramadhani. Berikut adalah artikel mengenai dirinya.
Siapa Dia?
Yasika Aulia Ramadhani, perempuan berusia 20 tahun, menjadi sorotan publik setelah diketahui mengelola sebanyak 41 Dapur MBG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang tersebar di berbagai daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel), seperti Makassar, Parepare, Gowa, dan Bone. Prestasinya ini membuatnya dijuluki “Ratu Dapur MBG” oleh warganet.
Profil dan Latar Belakang
Yasika adalah anak sulung dari Yasir Machmud, Wakil Ketua DPRD Sulsel dari Partai Gerindra, dan Andi Tenri Engka. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Ciputra Surabaya. Selain mengelola Dapur MBG, Yasika juga aktif di dunia usaha dan organisasi kepemudaan. Ia menjabat sebagai Wakil Bendahara Umum BPD HIPMI Sulsel periode 2024–2027, sekaligus menjabat sebagai komisaris dan pemegang saham di beberapa perusahaan.
Dalam mengelola program MBG, Yasika membentuk dan memimpin Yayasan Yasika Group yang menjadi payung bagi seluruh dapur MBG di Sulsel. Ia menyatakan bahwa program ini berjalan sejak 6 Januari 2025 dengan tujuan mempercepat pemenuhan gizi anak bangsa dan menggerakkan ekonomi lokal dengan memasok bahan baku dari pelaku usaha kecil di daerah sekitar.
Kontroversi yang Muncul
Pengelolaan 41 dapur MBG oleh Yasika menuai kontroversi karena jumlahnya melampaui batas maksimal yang dianjurkan Badan Gizi Nasional (BGN), yaitu 10 dapur per provinsi dan 5 dapur di provinsi berbeda. Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, mengakui bahwa Yasika menggunakan nama yayasan yang berbeda-beda untuk mengakali aturan pembatasan.
Namun, Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyatakan bahwa tidak ada pelanggaran karena pembangunan dapur MBG tersebut merupakan investasi swasta yang tidak menggunakan uang negara. Ia juga mengapresiasi upaya pihak swasta yang membantu mempercepat implementasi program MBG. BGN kemudian memutuskan untuk tidak menghentikan operasional dapur MBG yang sudah berjalan, namun akan memperketat pengawasan dan membuat aturan yang lebih baku ke depannya.