Pelaksanaannya persis seperti di pertandingan tinju sebenarnya. Ada lonceng yang dibunyikan wasit di akhir ronde. Lalu ada lonceng lagi untuk memulai ronde berikutnya.
Ada kursi di pojok ring agar petinju duduk di situ sebelum memulai ronde yang baru.
Satu pertandingan Patrick terdiri dari 12 ronde. Lalu istirahat 30 menit. Lalu bertanding lagi, 12 ronde. Begitu seterusnya. Sampai 24 jam. Asupan nutrisi dilakukan di saat istirahat 30 menit itu.
Selain diawasi dua kamera pertandingan itu juga disiarkan langsung: live streaming. Itu bukan live streaming biasa. Itu sekaligus donasi. Penonton bisa nyawer 24 jam di situ. Hasil saweran sepenuhnya untuk yayasan kanker anak-anak.
Ada satu rumah singgah untuk penderita kanker di Tangerang. Anak-anak desa yang sedang menjalani kemo bisa tinggal di situ –agar tidak wira-wiri ke desa mereka.
Rp 200 juta lebih uang yang terkumpul dari live streaming –sudah diserahkan sepenuhnya.
Tentu Anda bertanya: pada jam berapa Patrick merasa paling berat –termasuk dalam melawan kantuk?
Jawabnya, normal: sekitar pukul 02.00 – 03.00. Tapi Patrick punya cara mengatasinya. Berhari-hari sebelumnya ia berpesan kepada teman-teman terbaiknya: agar menonton pada jam-jam yang berat itu. Sekitar 15 teman memenuhi permintaan itu. Bahkan sebagian mereka menonton sampai pagi.
Kunci ketahanan Patrick datang dari persiapan yang baik: latihan berat selama empat bulan. Termasuk melakukan ”maraton” di treadmill –42 km lengkap dengan tanjakan dan turunannya.
Dokter juga mengawasinya tanpa henti. Termasuk memeriksa detak jantungnya di setiap akhir ronde.
Begitu sukses mencapai 24 jam Patrick berendam di air dingin selama 30 menit. Ada fasilitas itu di QBIG. Lalu mandi dengan air normal.
Badan pun kembali segar. Ganti baju. Perayaan ulang tahun dilaksanakan. Para penderita kanker dari rumah singgah ikut hadir: hari itu ternyata juga ulang tahun rumah singgah tersebut.
“Sudah pernah bertemu Pak Bahlil?”
“Belum”.
“Apa rencana Anda berikutnya?”
“Membuka klinik yang sama di Kemang dan PIK,” katanya. “Lalu berikutnya lagi buka di Bali”.(Dahlan Iskan)