Perjalanan itu delapan hari, tapi karena tiga hari pertama harus sering bersembunyi dulu, jadinya 11 hari.
Di hari ke-8 Nabi tiba di Quba –di luar kota Madinah. Istirahat beberapa hari di situ. Sempat membangun masjid. Baru kemudian masuk ke kota Madinah.
Tahun ini, para jamaah umrah sudah bisa napak tilas itu dengan cara baru. Tidak perlu jalan kaki. Terlalu jauh: lima kilometer. Bisa 1,5 jam. Ada cara baru: naik mobil golf. Hanya 20 menit.
”Terminal” mobil golf itu di dekat gerbang 330. Satu mobil bisa tujuh orang. Satu orang 20 riyal. Satu kali jalan.
Saya dipilihkan napak tilas malam hari. Siang pun sebenarnya tidak masalah. Ini lagi musim sejuk-sejuknya. Tidak terlalu dingin. Sekitar 20 derajat Celsius. Sangat nyaman.
Bedanya: kalau malam bisa melihat gemerlap lampu sepanjang jalan. Juga lihat air mancur bercahaya.
Rute lima kilometer itu sudah ditata bak destinasi baru wisata. Madinah sudah ditata indah –pun sampai pinggiran kotanya. Apalagi kompleks Masjid Quba itu: sudah dirombak total. Masjidnya. Juga lingkungan di luarnya.
Perjalanan mobil golf itu pun rutenya dibuat menarik: melewati beberapa lokasi bersejarah. Termasuk melewati Saqifah Bani Sa’idah yang terkenal itu (lihat: Disway 4 Maret 2024: Pagar Teras). Sudah lama rumah bersejarah itu –terutama terasnya- dihancurkan: untuk perluasan masjid Nabawi.
Kini teras rumah itu sudah jadi tambahan halaman masjid yang sangat luas. Sebagiannya sudah dibuat taman. Sudah ditanami kurma –tapi belum mulai berdaun.
Itulah yang dulu menjadi arena berdebatan masal. Tema debat: siapa pengganti Nabi Muhammad. Saking serunya pertentangan sampai jenazah Nabi lupa dikuburkan –menunggu selesainya perdebatan yang sampai berlangsung dua hari.
Ada juga literatur yang menyebutkan Nabi tidak segera dikuburkan bukan karena itu. Mereka sebenarnya menunggu saat-saat jenazah Nabi akan ”ditarik” ke langit.
Di zaman itu ada yang percaya bahwa Nabi, sebagai manusia sempurna, akan diangkat ke langit –seperti Nabi Isa (Yesus).