“Kami minta dikembangkan oleh Polres Ngada, jangan-jangan anak ini juga mendapatkan bullying di sekolah karena belum punya pena dan buku. Lingkungan sekolah harus aman bagi anak,” ujar Diyah dengan nada mendesak. Ia mengingatkan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat paling aman, bukan arena diskriminasi bagi siswa miskin.
Angka Bunuh Diri Anak Indonesia Tertinggi di ASEAN
Data mengejutkan dari KPAI menunjukkan posisi Indonesia yang sangat mengkhawatirkan di Asia Tenggara dalam hal angka bunuh diri anak. Faktor perundungan tetap menjadi jawara penyebab utama. KPAI mengingatkan Kemendikdasmen bahwa keadilan bagi korban tidak berhenti setelah mereka tiada; penyebab kematian harus dibongkar sampai tuntas demi perbaikan sistem ke depan.
Negara tidak boleh lagi menormalisasi kejadian ini sebagai peristiwa biasa. Setiap kasus anak SD yang mengakhiri hidup adalah bukti kegagalan sistem perlindungan anak di lingkungan pendidikan yang masih sangat rapuh. KPAI menuntut transparansi dan pertanggungjawaban penuh dari pihak sekolah dan dinas terkait.
KPAI Tuntut Roadmap Bantuan Fasilitas Pendidikan Sampai ke Pelosok
Sebagai langkah konkret, KPAI mendesak Kemendikdasmen untuk segera merumuskan peta jalan (roadmap) pendistribusian bantuan fasilitas pendidikan yang lebih akurat. Tujuannya jelas: bantuan harus sampai ke tangan siswa di pelosok daerah tanpa ada yang terlewat. Jangan sampai birokrasi yang lambat kembali memakan korban jiwa anak-anak yang putus asa.
“Negara harus memastikan pemenuhan hak pendidikan anak berjalan beriringan dengan hak perlindungan. Jangan ada lagi anak yang merasa putus asa di sekolah,” pungkas Diyah. Masa depan bangsa ini sedang dipertaruhkan; sudah saatnya pemerintah berhenti menutup mata dan segera bertindak nyata sebelum jatuh korban berikutnya. – Hasyim Ashari/Disway –