finnews.id – Kabar memilukan kembali mengoyak wajah pendidikan nasional kita. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) baru saja melayangkan desakan keras yang sangat provokatif kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Bayangkan, di tengah ambisi Indonesia Emas, masih ada anak bangsa yang nekat mengakhiri hidup karena merasa tertekan akibat fasilitas sekolah yang minim. Ini bukan sekadar isu ekonomi, ini adalah alarm bahaya bagi kita semua!
KPAI menyoroti fakta mengerikan bahwa Indonesia kini memegang rekor angka bunuh diri anak tertinggi di Asia Tenggara. Kasus terbaru di Ngada, NTT, menjadi bukti nyata betapa rapuhnya perlindungan mental siswa kita. Siswa SD tersebut diduga kuat mengalami depresi hebat hanya karena tidak memiliki alat tulis dasar. Pertanyaannya, di mana kehadiran negara saat seorang anak merasa sebatang pena lebih berharga daripada nyawanya sendiri?
Tragedi Ngada Jadi Tamparan Keras: Fasilitas Minim Picu Depresi Siswa
Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, menegaskan bahwa minimnya fasilitas pendidikan bukan perkara sepele. Hal ini berkaitan erat dengan hak asasi manusia (HAM) yang kini berada di level darurat. Anak-anak yang seharusnya fokus belajar justru harus memikul beban mental luar biasa akibat keterbatasan ekonomi yang mencolok di ruang kelas.
“Kita tidak bisa melihat kasus di Ngada dari satu sisi saja. Anak yang seharusnya mendapatkan hak pendidikan justru tertekan karena fasilitas yang tidak ia peroleh. Kami sudah berkoordinasi dengan Dirjen Kemendikdasmen untuk memastikan Dinas Pendidikan setempat hadir,” tegas Diyah pada Rabu, 4 Februari 2026.
Waspada Bullying! KPAI Minta Polisi Usut Ejekan Terkait Kemiskinan
KPAI mencurigai adanya rentetan masalah lain di balik tragedi ini, salah satunya adalah perundungan atau bullying. Siswa yang tidak memiliki buku atau pena sering kali menjadi sasaran ejekan teman sebayanya. Tekanan sosial inilah yang membuat beban psikologis anak semakin tidak tertahankan hingga mengambil jalan pintas.