finnews.id – Real Madrid menghadapi awal tahun yang penuh tantangan setelah serangkaian penampilan kurang memuaskan yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan penggemar. Ekspektasi tinggi terhadap “Los Galacticos 2.0” seakan tidak sejalan dengan performa tim di lapangan, terutama dalam pertandingan terakhir fase grup Liga Champions menghadapi Benfica.
Kekalahan dan Kartu Merah yang Menggemparkan
Dalam laga tersebut, Benfica tampil impresif dan berhasil menaklukkan Real Madrid dengan skor 4-2. Pertandingan ini menjadi sorotan karena insiden yang melibatkan striker Brasil, Rodrygo Goes. Pada menit-menit akhir, Rodrygo mendapatkan kartu kuning pertama akibat protes terhadap keputusan wasit. Namun, bukannya menenangkan diri, pemain berusia 22 tahun itu terus menunjukkan ketidakpuasan, hingga akhirnya diganjar kartu merah langsung pada menit ke-90.
Insiden ini membuat Real Madrid harus bermain dengan sembilan pemain, setelah sebelumnya defender Raul Asensio juga diusir wasit. Kejadian tersebut menimbulkan kekecewaan yang mendalam bagi para penggemar dan menambah tekanan bagi tim menjelang fase playoff.
Permintaan Maaf Rodrygo
Sehari setelah kekalahan tersebut, Rodrygo menyampaikan permintaan maaf melalui akun X-nya. Dalam pesannya, ia mengaku terbawa emosi pada saat kejadian dan menegaskan bahwa tindakannya tidak mencerminkan karakter sebenarnya. Ia menulis:
“Semalam saya terbawa oleh momen ketika mempermasalahkan waktu yang terbuang. Ini bukan cara saya bertindak. Saya belum pernah diusir saat bermain untuk Real Madrid dan saya sadar akan konsekuensinya. Saya meminta maaf kepada fans, klub, rekan setim, dan pelatih. Kami akan terus berjuang untuk lambang ini dan Liga Champions!”
Permintaan maaf ini menunjukkan kesadaran Rodrygo atas tanggung jawabnya sebagai pemain Real Madrid dan pentingnya menjaga disiplin, terutama di kompetisi bergengsi seperti Liga Champions.
Dampak Insiden terhadap Real Madrid
Kartu merah Rodrygo dan kekalahan dari Benfica berdampak pada posisi Real Madrid di fase grup, memaksa mereka menghadapi fase knockout tanpa bisa menghindari laga tambahan. Insiden ini juga menimbulkan perdebatan tentang kontrol emosi pemain dalam situasi tekanan tinggi dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi hasil tim.
Selain itu, para analis menyoroti perlunya tim mempertahankan keseimbangan antara agresivitas permainan dan disiplin, terutama menghadapi tim yang tampil di atas ekspektasi seperti Benfica. Jose Mourinho, pelatih Benfica, berhasil memanfaatkan celah ini dan membawa timnya lolos ke playoff secara dramatis.