Peran Lingkungan dan Edukasi
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari peran lingkungan sekitar. Kurangnya edukasi tentang bahaya penyalahgunaan zat, minimnya ruang aman untuk berekspresi, serta lemahnya pengawasan turut memperparah situasi.
Keluarga, sekolah, dan komunitas memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman yang seimbang—bukan sekadar melarang, tetapi juga menjelaskan dampak jangka pendek dan panjang dari perilaku berisiko tersebut.
Media Sosial dan Tanggung Jawab Bersama
Platform media sosial seharusnya tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral. Normalisasi penggunaan gas tertawa sebagai konten lucu tanpa konteks edukatif dapat menyesatkan dan membahayakan.
Di sisi lain, kreator konten dan figur publik juga perlu lebih bijak dalam menampilkan gaya hidup, karena apa yang mereka unggah dapat dengan mudah ditiru oleh pengikutnya.
Penggunaan gas tertawa di kalangan anak muda akibat FOMO adalah cerminan dari masalah yang lebih besar: krisis identitas, tekanan sosial, dan minimnya literasi kesehatan. Alih-alih mencari validasi instan melalui tren berbahaya, anak muda perlu didorong untuk menemukan cara berekspresi yang lebih sehat dan bermakna.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa mengikuti tren tanpa pemahaman kritis bisa berujung pada konsekuensi serius. Kesadaran, edukasi, dan kepedulian bersama adalah kunci untuk mencegah generasi muda terjebak dalam euforia sesaat yang berbahaya.