“Pemanfaatan di kawasan konservasi lebih kepada jasa lingkungan, seperti wisata alam. Ini dilakukan agar kawasan tetap lestari sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Selain aktivitas pendakian Gunung Rinjani, Balai TNGR juga mendorong pengembangan wisata non-pendakian, seperti kunjungan ke air terjun, kolam alami, dan objek wisata alam lainnya yang tersebar di sekitar kawasan.
“Wisata non-pendakian juga memberikan nilai ekonomi yang tidak kecil. Tipologi-nya berbeda, tetapi tetap berkontribusi pada perputaran ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Sebagai upaya penguatan ekonomi alternatif, Balai TNGR juga mulai mengembangkan potensi plasma nutfah, seperti jamur morel, tanaman obat, dan sumber daya hayati lainnya melalui tahapan penelitian dan regulasi yang ketat.
“Pemanfaatan sumber daya hayati tidak bisa dilakukan sembarangan. Semua harus melalui penelitian agar pemanfaatan-nya tetap sejalan dengan prinsip konservasi,” kata Budhy.